Selasa, Maret 18, 2014

Lahan Kering di Kalimantan Selatan

Hingga saat ini pengertian lahan kering di Indonesia belum disepakati secara benar. Di dalam bahasa Inggris banyak istilah-istilah yng dipadankan dengan lahan kering seperti upland, dryland dan unirrigated land, yang menyiratkan penggunan pertanian tadah hujan. Istilah upland farming, dryland farming dan rainfed farming dua istilah terakhir yang digunakan untuk pertanian di daerah bercurah hujan terbatas. Penertian upland mengandung arti lahan atasan yang merupakan lawan kata bawahan (lowland) yang terkait dengan kondisi drainase (Tejoyuwono, 1989).
Lahan kering umumnya terdapat didataran tinggi (daerah pegunungan) yang ditandai dengan topografinya yang bergelombang dan merupakan daerah penerima dan peresap air hujan yang kemudian dialirkan kedataran rendah, baik melalui permukaan tanah (sungai) maupun melalui jaringan bumi air tanah. Jadi lahan kering didefinisikan sebagai dataran tinggi yang lahan pertaniannya lebih banyak menggantungkan diri pada curah hujan. Lahan kering diterjemahkan dari kata “upland” yang menunjukkan kepada gambaran “daerah atas” (Hasnudi dan Saleh, 2006).
Kesepakatan pengertian lahan kering dalam seminar nasional pengembangan wilayah lahan kering ke 3 di Lampung : (upland dan rainfed) adalah hamparan lahan yang didayagunakan tanpa penggenangan air, baik secara permanen maupun musiman dengan sumber air berupa hujan atau air irigasi (Suwardji, 2003). Definisi yang diberikan oleh soil Survey Staffs (1998) dalam Haryati (2002), lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah tergenang atau digenangi air selama periode sebagian besar waktu dalam setahun. Tipologi lahan ini dapat dijumpai dari dataran rendah (0-700 m dpl) hingga dataran tinggi (> 700m dpl). Dari pengertian diatas, maka jenis penggunaan lahan yang termasuk dalam kelompok lahan kering mencakup: lahan tadah hujan, tegalan, lading, kebun campuran, perkebunan, hutan, semak, padang rumput, dan padang alang-alang. Lahan kering dalam keadaan alamiah memiliki kondisi antara lain peka terhadap erosi, terutama bila keadaan tanahnya miring atau tidak tertutup vegetasi, tingkat kesuburannya rendah, air merupakan faktor pembatas dan biasanya tergantung dari curah hujan serta lapisan olah dan lapisan bawahnya memiliki kelembaban yang amat rendah.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Tanaman Pangan tahun 2007 wilayah Kalsel memiliki lahan kering seluas 1.780.864 Ha dan baru dimanfaatkan untuk perkebunan seluas 670.480. Jadi masih ada sisa seluas 1.110.384 Ha. Sebagian besar didominasi oleh jenis tanah podsolik merah kuning yang tergolong marginal.
Sebaran tanah kering yang ada di kalimantan selatan terdiri dari Entisol 3.698.000 ha, Inceptisol 14.903.000 ha, Andisol 237.000 ha, Molisol 685.000 ha, Ultisol 21.938.000 ha dan Oxisol 4.521.000 ha. Tanah yang termasuk ordo Entisol merupakan tanah-tanah yang masih sangat muda yaitu baru tingkat permulaan dalam perkembangan. Tidak ada horison penciri lain kecuali epipedon ochrik, albik atau histik. Tanah yang termasuk ordo Inceptisol merupakan tanah muda, tetapi lebih berkembang daripada Entisol. Tanah inceptisols umumnya mempunyai horison kambik. Tanah ini belum berkembang lanjut, sehingga kebanyakan dari tanah ini cukup subur. Tanah-tanah Andisol pada umumnya mempunyai karakteristik utama yaitu memiliki sifat andik, yaitu satu sifat tanah yang mengandung jumlah mineral Al (aluminium) ditambah fi Fe (ferum/besi) lebih dari atau sama dengan 2 persen, dan berat jenisnya kurang dari 9 gr/cc, serta memiliki retensi fosfat lebih dari 85%; atau memiliki paling sedikit 30% fraksinya berukuran 0,002 - 2 mm, serta memiliki kandungan gelas vulkanik antara 5 persen sampai lebih dari 30% (tergantung kandungan jumlah Al dan fi Fe-nya). Tanah yang termasuk ordo Mollisol merupakan tanah dengan tebal epipedon lebih dari 18 cm yang berwarna hitam (gelap), kandungan bahan organik lebih dari 1%, kejenuhan basa lebih dari 50%. Agregasi tanah baik, sehingga tanah tidak keras bila kering. Kata Mollisol berasal dari kata Mollis yang berarti lunak. Tanah yang termasuk ordo Oxisol merupakan tanah tua sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit. Kandungan liat tinggi tetapi tidak aktif sehingga kapasitas tukar kation (KTK) rendah, yaitu kurang dari 16 me/100 g liat. Banyak mengandung oksida-oksida besi atau oksida Al. Berdasarkan pengamatan di lapang, tanah ini menunjukkan batas-batas horison yang tidak jelas. Tanah yang termasuk ordo Ultisol merupakan tanah-tanah yang terjadi penimbunan liat di horison bawah, bersifat masam, kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah kurang dari 35% (Hidayat dan Mulyani, 2002).
Berdasarkan tingkat kemasaman tanah, lahan kering dapat dibedakan menjadi lahan kering masam yang dicirikan oleh pH < 5,0 dan kejenuhan basa < 50%, termasuk dalam kelompok ini adalah tanah-tanah yang mempunyai sifat distrik. Sebaliknya lahan kering tidak masam dicirikan dengan pH > 5,0 dan kejenuhan basa > 50% yang didominasi oleh tanah-tanah bersifat eutrik. Tanah-tanah di lahan kering mempunyai tingkat kemasaman yang tinggi sekitar 99.6 juta (69.17%) dan sisanya termasuk tidak masam, yaitu sekitar 44,4 juta ha (30,8%) (Tabel 7). Tanah-tanah yang termasuk kelompok masam di lahan kering beriklim basah (udik) antara lain : Entisol, Inceptisol, Ultisol, dan Oxisol. Sedangkan lahan kering yang tidak masam umumnya terdiri dari Inceptisol, Vertisol, Mollisol, dan Alfisol dan berada di wilayah iklim kering (ustik) (Hidayat dan Mulyani, 2002).
Lahan kering tergolong suboptimal karena tanahnya kurang subur, bereaksi masam, mengandung Al, Fe, dan atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Lahan masam pada umumnya miskin bahan organik dan hara makro N, P, K, Ca, dan Mg. Pemberian bahan ameliorasi kapur, bahan organik, dan pemupukan N, P, dan K merupakan kunci untuk memperbaiki kesuburan lahan kering masam. Pada umumnya lahan kering masam didominasi oleh tanah Ultisol, yang dicirikan oleh kapasitas tukar kation (KTK) dan kemampuan memegang/menyimpan air yang rendah, tetapi kadar Al dan Mn tinggi. Oleh karena itu, kesuburan tanah Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kadar bahan organik pada lapisan atas, dan bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi miskin hara dan bahan organik. Di samping itu, kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi, sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe, tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Notohadiprawiro, 2006).
Sebagian besar ultisol di Kalimantan adalah tropodult. Jenis udult sukar untuk digunakan secara intensif karena kandungan hara di bawah lapisan permukaan rendah dan komposisi antara kandungan aluminium yang tinggi dan keasaman yang kuat. Secara tradisional penduduk setempat telah menggunakan tanah ini untuk perladangan berpindah dengan tanaman berumur pendek dan masa bera yang lebih panjang supaya kesuburan tanah pulih kembali. Cara ini memberikan kesempatan bagi lapisan permukaan tanah untuk mengumpulkan humus dan bahan organik lagi yang penting bagi cadangan hara dan untuk mengatur kelembaban dan suhu tanah.
DAFTAR PUSTAKA
Arief, A. Dan Irman. 1997. Ameliorasi Lahan Kering Masam untuk Tanaman Pangan. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Puslitbang Tanaman Pangan. Balitbangtan Deptan. Hal. 1665-1675.
Arief. 2008. Geografi tanah Indonesia. feiraz.files.wordpress.com. Diakses 05 Juli 2009.
Hanafiah,AK. 2007. Dasar Dasar Ilmu Tanah. Edisi 2. Raja Gravindo Persada.Jakarta . pp 139-165.
Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo, Jakarta. 273 p.
Hidayat, A. Dan A. Mulyani. 2005. Lahan Kering untuk Pertanian. Teknologi Pengelolaan Lahan Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Puslitbang Tanah dan Agroklimat, Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. pp 8-35.
Himatan. 2006. Pembentukan dan Profil Tanah. Himpunan Ilmu Tanah Universitas Padjajaran. Hiatan06.files.wordpress.com. Diakses 05 Juli 2009.
Kuswandi. 1993. Pengapuran Tanah Pertanian. Kanisius Yogyakarta.Edisi 1.
Notohadiprawiro,T. 2006. Ultisol, Fakta dan Implikasi Pertaniannya. Buletin Pusat Penelitian Marihat . No. 6. 2006.
Nursyamsi, Dedi. 2004. Makalah Sekolah Pasca Sarjana / S3beberapa Upaya Untuk Meningkatkan Produktivitas Tanah di Lahan Kering. Institut Pertanian Bogor.
Subagyo, H., N. Suharta, dan A.B. Siswanto. 2000. Tanah-tanah pertanian di Indonesia. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.
Suriadikarta, dan Prasetyo, B.H. 2006. Karakteristik, potensi, dan teknologi Pengelolaan tanah ultisol untuk Pengembangan pertanian lahan Kering di Indonesia. Balai Penelitian Tanah. Bogor.

Read more »»  

Permasalahan Tanah di Kalimantan Selatan

Di daerah tropis yang lembab pelapukan berlangsung sangat cepat, disebabkan oleh panas dan kelembaban. Karena curah hujan yang tinggi, tanah selalu basah dan unsur-unsur pokoknya yang dapat larut hilang ; proses ini disebut pelindian. Tingkat pelapukan, pelindian dan kegiatan biologi (kerusakan bahan-bahan organik) yang tinggi merupakan ciri berbagai tanah di Kalimantan. Batuan Pulau Kalimantan miskin kandungan logam dan tanah Kalimantan umumnya kurang subur dibandingkan dengan tanah vulkanik yang subur di Jawa. Pelapukan sempurna yang dalam disertai dengan pelindian menghasilkan tanah yang kesuburannya rendah di berbagai dataran rendah. Lereng yang lebih curam mungkin lebih subur karena erosi dan tanah longsor terus membuk batuan induk yang baru.
Maraknya penebangan liar maupun alih fungsi hutan menjadi areal pertambangan serta perkebunan.Di samping itu, terus meluasnya kondisi lahan kritis itu akibat kebakaran hutan dan lahan. Luas lahan kritis di Kalsel kini tercatat lebih dari 750.000 hektare dan hampir 600.000 hektare berada di dalam kawasan hutan.Lahan kritis di Kalsel saat ini tercatat seluas 555.983 hektare yang berada di dalam kawasan hutan dan sekitar 195.362 hektare di luar kawasan hutan. Artinya, saat ini kawasan hutan Kalsel yang mempunyai luas kurang lebih 1,6 juta hektare kian terancam.

Read more »»  

Klasifikasi Lahan di Kalimantan Selatan

Pengertian lahan (land) adalah permukaan daratan dengan kekayaan benda-benda padat, cair, dan bahkan benda gas (Suryatna, 1985: 9). Kemudian (Karmono, 1985 dalam Haryoko, 1996: 13) memberikan pengertian lahan adalah suatu daerah di permukaan bumi dengan sifat-sifat tertentu yaitu adanya persamaan dalam hal geologi, geomorfologi, atmosfir, tanah, hidrologi dan penggunaan lahan, sifat-sifat tersebut adalah berupa iklim, batuan dan struktur, bentuklahan dan proses, jenis tanah, tata air, dan vegetasi/ tumbuhannya.
Sebagian besar tanah di Kalimantan telah berkembang pada dataran bergelombang dan pegunungan yang tertoreh diatas batuan sedimen dan batuan beku tua.Tanah-tanah ini berkisar dari ultisol masam yang sangat lauk dan inceptisol muda. Di bagian selatan dataran aluvial dan tanah gambut yang sangat luas, terus meluas sampai ke Laut Jawa. Perluasan ini masih terus terjadi di dangkalan Kalimantan bagian selatan, dengan endapan aluvial yang terbentuk di belakang hutan bakau pesisir.
Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan terdiri dari 4 (empat) bagian, yaitu dataran Aluvial, dataran Rawa, Perbukitan dan Pegunungan. Jenis tanah yang dominan adalah podsolik merah kuning dan aluvial.
Tanah aluvial yang didominasi struktur lempung adalah jenis tanah yang mendominasi wilayah kota Banjarmasin. Sedangkan batuan dasar yang terbentuk pada cekungan wilayah berasal dari batuan metamorf yang bagian permukaannya ditutupi oleh krakal, kerikil, pasir dan lempung yang mengendap pada lingkungan sungai dan rawa.

Read more »»  

Pengertian Tanah

Kata ”tanah” seperti banyak kata umum lainnya, mempunyai beberapa pengertian. Dalam pengertian tradisional tanah adalah medium alami untuk pertumbuhan tanaman daratan, tanpa memperhitungkan tanah tersebut mempunyai horizon yang keliatan atau tidak. Pengertian ini masih merupakan arti yang paling umum dari kata tersebut, dan perhatian yang terbesar pada tanah terpusat pada pengertian ini. Orang menganggaptanah adalah penting, oleh karena tanah mendukung kehidupan tanam-tanaman yang memaso pangan, serat, obat-obatan, dan berbagai keperluan lain manusia, juga karena mampu menyaring air serta mendaur ulang limbah. Tanah menutupi permukaan bumi sebagai lapisan yang sambung menyambung, terkecuali pada batuan tandus, pada wilayah yang terus menerus membeku, atau tertutup air dalam, atau pada lapisan es terbuka suatu glester. Dalam pengertian ini, tanah memiliki suatu ketebalan yang ditentukan oleh kedalaman akar tanaman.
Schoeder (1972) mendefinisikan tanah sebagai suatu sistem tiga fase yang mengandung air, udara dan bahan-bahan mineral dan organik serta jasad-jasad hidup, yang karena pengaruh berbagai faktor lingkungan pada permukaan bumi dan kurun waktu, membentuk berbagai hasil perubahan yang memiliki ciri-ciri morfologi yang khas, sehingga berperan sebagai tempat tumbuh bermacam-macam tanaman. gambar di bawah adalah gambar faktor pembentuk tanah.
Tanah menurut Dr. D. Subardja, M.Sc adalah benda alami di permukaan bumi yang terbentuk dari bahan induk tanah (bahan organik dan atau bahan mineral) oleh proses pembentukan tanah dari interaksi faktor-faktor iklim, relief/bentuk wilayah, organisma (mikro-makro) dan waktu, tersusun dari bahan padatan (organik dan anorganik), cairan dan gas, berlapis-lapis dan mampu mendukung pertumbuhan tanaman. Batas atas adalah udara, batas samping adalah air dengan kedalaman > 2 m atau singkapan batuan dan batas bawah adalah sampai kedalaman aktivitas biologi atau padas yang tidak tembus akar tanaman, dibatasi sampai kedalaman 2 m.
Read more »»  

Jumat, Mei 25, 2012

Jenis Tanah di Banjarmasin Kalimantan Selatan

Provinsi Kalimantan Selatan Kota/Kabupaten Kota Banjarmasin
Bujur: 114 ° 21 ' 7 '' BT - 117 ° 4 ' 52 '' BT; Lintang: 5 ° 6 ' 18 '' LS - 1 ° 18 ' 14 '' LS
Tahun Pembuatan data 2004
Jenis Tanah
ASOSIASI DYSTRUDEPTS ENDOAQUEPTS,
ASOSIASI DYSTRUDEPTS EUTRUDEPTS,
ASOSIASI ENDOAQUEPTS DYSTRUDEPTS,
ASOSIASI ENDOAQUEPTS ENDOAQUENTS,
ASOSIASI ENDOAQUEPTS HAPLOHEMISTS,
ASOSIASI ENDOAQUEPTS SULFAQUENTS,
ASOSIASI EUTRUDOX EUTRUDEPTS,
ASOSIASI HAPLOHEMISTS HAPLOFIBRISTS,
ASOSIASI HAPLOHEMISTS SULFIHEMISTS,
ASOSIASI HAPLUDOLLS ARGIUDOLLS,
ASOSIASI HAPLUDOLLS EUTRUDEPTS,
ASOSIASI HAPLUDOX KANDIUDULTS,
ASOSIASI HAPLUDULTS DYSTRUDEPTS,
ASOSIASI HAPLUDULTS PALEUDULTS,
ASOSIASI HAPLUDULTS PLINTHUDULTS,
ASOSIASI HAPRENDOLLS EUTRUDEPTS,
ASOSIASI HEDRAQUENTS SULFAQUENTS,
ASOSIASI SULFAQUEPTS SULFAQUENTS,
ASOSIASI UDIPSAMMENTS ENDOAQUENTS
Sumber Data
Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, tahun 2000
Pemrosesan Data Digitasi dari peta sumberdaya tanah eksplorasi, Puslittanak
Kegunaan Data dapat digunakan untuk menyusun kesesuaian lahan pertanian
Sumber :

Read more »»  

Kamis, Mei 17, 2012

Karakteristik Sensor dan Wahana Penginderaan Jauh

Dalam mempelajari penginderaan jauh sangat terkait sumber energi, interaksi energi di atmosfer, interaksi energi dengan permukaan bumi. Hal lain yang harus dipahami adalah proses perekaman energi itu sendiri. Proses perekaman energi dilakukan dengan menggunakan sensor peka energi-energi tersebut. Seperti tubuh manusia, masing-masing sensor seperti mata dan telinga memiliki kepekaan yang berbeda-beda terhadap energi yang diterimanya. Informasi yang diterima oleh sensor ini akan saling mendukung menjadi informasi yang utuh.
Seperti diketahui pada bab terdahulu, energi yang diterima oleh sensor berasal dari energi yang dipancarkan obyek ataupun energi matahari yang dipantulkan obyek. Agar sensor dapat merekam energi-energi tersebut, sensor harus dipasang pada suatu wahana bergerak dengan jarak yang stabil antara obyek dengan wahana. Wahana yang membawa sensor ini dapat berupa wahana yang bergerak didarat melalui cara terestrial, pesawat udara, balon, ataupun satelit.
Sensor terestrial sering digunakan untuk merekam berbagai informasi detil tentang permukaan bumi sebagai pelengkap informasi yang dikumpulkan melalui pesawat udara ataupun satelit. Dalam banyak hal perekaman menggunakan cara ini lebih memberikan pemahaman yang mendalam dan lengkap tentang suatu obyek hasil identifikasi melalui foto udara atau citra satelit. Sensor melalui cara terestrial ini dapat diletakkan pada suatu gedung yang tinggi, crane, atau mobil.
Sensor dengan menggunakan pesawat udara memberikan hasil berupa foto udara. Citra foto udara memberikan informasi citra yang cukup detil. Cakupan dari citra ini lebih luas dari pada metode terestrial. Sensor untuk merekam informasi diletakkan pada tubuh atau sayap pesawat.
Perekaman melalui satelit menghasilkan informasi berupa citra satelit. Satelit diluncurkan dan bergerak pada orbitnya dengan membawa beberapa sensor. Masing-masing sensor memiliki kepekaan yang berbeda-beda terhadap gelombang elektromagetik. Hasil dari masing-masing sensor ini selanjutnya sering dikenal dengan istilah saluran (band). Contoh citra satelit Landsat TM dengan 7 saluran (band) yang masing-masing band memiliki kemampuan ”melihat” yang berbeda-beda.

ORBIT DAN CAKUPAN
Penginderaan jauh pada saat ini banyak menggunakan citra satelit sebagai dasar analisisnya. Citra penginderaan jauh dengan menggunakan satelit memberikan cakupan yang luas atas permukaan bumi. Sejalan dengan kemajuannya citra satelit dengan resolusi tinggi memberikan informasi yang tidak kalah detil dengan foto udara.
Dalam merekam informasi satelit bergerak pada suatu jalur terbangnya. Jalur terbang satelit ini disebut dengan Orbit. Orbit dari satelit disesuaikan dengan kemampuan sensor dan tujuan perekamannya. Orbit satelit memiliki variasi pada ketinggian, orientasi, ataupun rotasi relatifnya terhadap bumi.
Geostationary Orbit
Satelit dengan orbit Geostasioner memiliki ketinggian sekitar 36000 kilometer. Kecepatan gerak rotasi sama dengan gerak rotasi bumi. Dengan ketinggian dan kecepatan yang sama dengan rotasi bumi ini, maka satelit tersebut dapat mengamati suatu wilayah secara terus-menerus di setiap waktu. Satelit ini dapat mengamati berbagai perubahan yang terjadi setiap saat untuk wilayah yang diamatinya. Satelit ini seakan-akan selalu berada ditempatnya (geostasioner). Satelit yang menggunakan orbit ini biasanya adalah satelit komunikasi dan satelit cuaca.
Near Polar Orbit
Satelit dengan orbit Near Polar mengelilingi bumi dengan arah utara – selatan tegak lurus dengan perputaran bumi. Orbit. Satelit merekam permukaan bumi dari utara ke selatan, dan pada bagian lain merekam dari selatan ke utara. Pada saat satelit berada pada bagian muka bumi yang berhadapan dengan matahari, sensor merekam pantulan energi matahari yang mengenai muka bumi. Sedang pada saat satelit berada pada area bayang-bayang (malam) satelit hanya merekan permukaan yang terkena pantulan sinar matahari. Satelit penginderaan jauh biasanya memiliki orbit ini Orbit ini dapat meliput sebagian besar wilayah muka bumi dalam periode tertentu.

RESOLUSI SPEKTRAL DAN UKURAN PIKSEL
Ketinggian wahana perekam dengan permukaan bumi yang direkamnya memainkan peranan dalam data hasil penginderaan ini. Jarak yang tinggi dari wahana perekam memungkinkan merekam area permukaan bumi yang lebar. Dengan kata lain, satelit ini memiliki area cakupan (swat) yang luas. Tetapi disisi lain, dengan semakin tingginya wahana perekam ini akan berakibat pada kedetilan obyek yang dapat direkamnya. Obyek individual seperti rumah, pohon, dan berbagai obyek lain sulit dipisahkan satu persatu secara individual.
Wahana perekam seperti pesawat udara yang menghasilkan foto udara memiliki ketinggian terbang yang rendah dibandingkan satelit. Oleh karenanya, data foto udara lebih memungkinkan pemisahan dan identifikasi obyek secara individual.
Kemampuan merekam obyek ini juga dipengaruhi oleh sensor. Sensor sebuah satelit memiliki kemampuan merekam obyek terkecilnya berbeda-beda. Satelit Landsat TM mampu merekam obyek terkecil dilapangan sebesar 30 x 30 meter. Satelit Ikonos merekam dengan obyek terkecilnya 1 x 1 meter. QuickBird dengan ukuran obyek terkecilnya 0,6 x 0,6 meter. Kemampuan sensor dalam merekam obyek terkecil pada tiap pikselnya ini disebut dengan resolusi spasial. Resolusi spasial pada sensor pasif terutama dipengaruhi oleh sudut pandangnya yang disebut dengan Instantaneous Field of View (IFOV). Area dipermukaan bumi yang tercakup dalam sebuah luasan IFOV disebut dengan sel resolusi (Resolution Cell).
Citra satelit terbentuk dari serangkaian matrik elemen gambar yang disebut dengan piksel. Piksel merupakan unit terkecil dari sebuah citra. Piksel sebuah citra pada umumnya berbentuk segi empat dan mewakili suatu area tertentu pada citra. Jika sebuah sensor memiliki resolusi spasial 20 meter dan citra dari sensor tersebut menampilkannya secara penuh, maka masing-masing piksel akan mewakili area seluas 20 x 20 meter. Citra yang menampilkan area dengan cakupan yang luas biasanya memiliki resolusi spasial yang rendah. Hal ini banyak terdapat pada citra-citra dari satelit komersial. Citra dengan resolusi tinggi akan menampilkan obyek secara detil. Satelit militer biasanya didesain untuk hal ini. Citra dari satelit ini mampu menampilkan obyek secara detil.

RESOLUSI SPEKTRAL
Resolusi spektral adalah adalah kemampuan sensor untuk membedakan interval sebuah panjang gelombang. Semakin halus resolusi spektral sensor, semakin pendek panjang gelombang dapat dipisahkan menjadi saluran-saluran (band) yang terpisah. Sebagai contoh, citra satelit Landsat TM memiliki 7 saluran. Satelit Landsat TM memiliki sensor dengan kepekaan pada masing-masing rentang interval panjang gelombang hingga sebanyak 7 saluran. Masing-masing sensornya hanya merekam energi panjang gelombang dengan rentang tertentu.
Film hitam putih merekam panjang gelombang dari 0,4 mm hingga 0,7 meter. Film ini menghasilkan citra yang berwarna hitam dan putih saja, karena seluruh panjang gelombang yang terrentang pada interval tersebut terrekam pada satu titik. Seperti telah diketahui, rentangan 0,4 mm hingga 0,7mm terdiri dari banyak warna yang diantaranya adalah warna primer yaitu biru, hijau, dan merah. Perpaduan dari ketiga warna tersebut menghasilkan gradasi warna keabuan (greyscale).
Pada film berwarna, interval panjang gelombang dari 0,4 mm hingga 0,7 mm tersebut dipisahkan menjadi beberapa saluran yaitu saluran biru (0,4 – 0,5mm), saluran hijau (0,5 – 0,6 mm) dan saluran merah (0,6 – 0,7 mm). Film ini akan menghasilkan citra yang berwarna karena masing-masing saluran terrekam oleh pada salurannya masing-masing.
Read more »»  

Kesuburan Tanah Menjelang Abad Ke-19


Setelah kehancuran bangsa Romawi hanya sedikit publikasi-publikasi berkaitan dengan perkembangan pertanian, hingga Pietro de Crescenzi (1230 – 1307) mendobrak kesunyian itu dengan menerbitkan buku mengenai masalah pertanian lokal, dengan judul “Opusruralium commodorum”. Oleh banyak orang de Crescenzi dianggap sebagai pendiri agronomi moderen, kendatipun beberapa diantara manuskrip itu kelihatan seperti dibatasi pada hasil kerja penulis sebelumnya, Homer. Kontribusinya sebagian besar dari meringkaskan bahan-bahan yang telah ada. Beliau juga menganjurkan peningkatan jumlah pupuk dari rekomendasi yang sudah ada ketika itu. Setelah pemunculan de Crescenzi ini hanya sedikit pertumbuhan ilmu pengetahuan kesuburan tanah untuk masa yang lama berikutnya, meskipun Palissy dalam tahun 1563 tercatat dengan observasinya yang mengemukakan, bahwa kandungan abu tanaman adalah merupakan bahan yang diangkut dari dalam tanah. Di sekitar abad ke XVII Francis Bacon (1561-1624) berpendapat, bahwa makanan utama tumbuhan adalah air. Beliau percaya, bahwa tujuan utama tanah adalah agar tumbuh-tumbuhan berdiri tegak sempurna di atasnya dan melindungi tanah itu dari suhu panas dan dingin, sehingga setiap tanaman mengambil sejumlah zat yang unik dari dalam tanah, digunakan untuk makanannya.
Selama periode yang sama, Jan Baptiste van Helmont yang hidup antara tahun 1577-1644M, seorang ahli fisika dan kimia bangsa Belanda, melaporkan hasil percobaannya yang dipercayainya telah membuktikan, bahwa airlah hara yang digunakan tanaman untuk pertumbuhannya. Dalam percobaannya ia memasukkan 200 lb (lb sama dengan pound) tanah ke dalam suatu kontainer, kemudian dilembahkan dan disusul dengan penanaman pohon willow muda seberat 5 lb. Percobaan ini dijaganya hati-hati dari pengaruh benda-benda luar, dan hanya diberikan air hujan, air suling. Setelah 5 tahun, Van Helmont mengakhiri percobaannya. Tanaman ditimbang dan mempunyai berat 169 lb 3 oz. Sedangkan berat tanah kehilangan 2 oz dari 200 lb yakni berat tanah semula. Beliau menyimpulkan bahwa oleh karena hanya air yang ditambahkan maka pertambahan berat tanaman adalah air melulu, dan airlah makanan satu-satunya dari tanaman. Beliau berpendapat kekurangan 2 oz dari berat tanah adalah disebabkan kesalahan percobaan (exsperimental error).
Dewasa ini kita telah mengetahui, bahwaa CO2 maupun unsur-unsur hara tanah diperlukan untuk nutrisi tanaman. Haruslah diingat bahwa percobaan ini dilakukan pada saat belum banyak hal-hal telah diketahui mengenai seluk beluk nutrisi hara ataupun fotosintesa. Hasil kerja Van Helmont beserta kesalahan konklusinya secara nyata amat bernilai untuk pengetahuan kita, meskipun beliau salah, namun kesalahannya itu telah menstimulir lahirnya penelitian-penelitian lainnya yang menghasilkan pengertian-pengertian lebih luas dari seluk beluk nutrisi tanaman. Pekerjaan Van Helmont ini diulang kembali oleh Robert Boyle (1627-1691) dari Inggris. Boyle dikenal sebagai ahli fisika di zamannya mengenai hubungan volume gas dan tekanannya. Beliau juga menaruh perhatian pada biologi serta percobaan-percobaan yang berkaitan dengan ilmu ini. Beliaulah orang pertama tercatat mengemukakan: observasi adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran. Boyle dalam percobaannya sependapat dengan Van Helmont, tetapi beliau melangkah lebih maju. Dari hasil analisa kimia yang dilakukannya pada contoh-contoh tanaman, beliau menandaskan, bahwa tumbuh-tumbuhan itu mengandung sejumlah garam-garam, spiritus, minyak yang semuanya terbentuk dari molekul air.
Pada waktu yang bersamaan Glauber (1604-1668), seorang ahli kimia berbangsa Jerman berpendapat, bahwa sendawa atau kalium nitratlah yang bertanggung jawab sebagai penyusun utama vegetasi dan bukan air. Beliau mengumpulkan garam yang berasal dari tanah kandang lembu dan memberikan bukti, bahwa garam-garam itu mestilah berasal dari kotoran maupun air seni binatang. Seterusnya beliau mengemukakan, bahwa oleh karena binatang itu memakan rumput, maka sendawa yang terdapat di dalam contoh tanah dianalisakan haruslah sendawa itu berasal dari rumput makanan ternak itu. Seterusnya beliau mencoba menggunakan bahan ini untuk mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Hasil observasinya menyimpulkan, bahwa memang terjadi peningkatan besar pertumbuhan tanaman; dengan kejadian ini beliau yakin, bahwa kesuburan tanah serta nilai pupuk kandang itu amat ditentukan oleh sendawa. Pendapat ini disokong oleh John Mayow (1643 – 1679), seorang ahli kimia berbangsa Inggris.
Teknik percobaan masih amat kasar pada periode waktu itu. Teknik percobaan yang dilakukan oleh Mayow, Glauber, Boyle dan Bacon masih jauh di bawah penelitian baku yang kita kenal saat ini. Kira-kira pada tahun 1700, studi telah dijalankan lebih intensif dan kelihatan tendensi peningkatan mutu, sehingga terlihat kemajuan dalam bidang ilmu pertanian (agricultural sciences). John Woodward seorang Inggris mencoba pekerjaan yang pernah dilakukan oleh Boyle dan Van Helmont. Beliau menanam spearmint dalam contoh air yang berasal dari air hujan, air sungai, air limbah, dan campuran air limbah dengan serasah. Dengan hati-hati beliau mengukur jumlah air yang ditransfirasikan tanaman dan mencatat berat tanaman pada awal dan akhir percobaan. Beliau menemukan, bahwa pertumbuhan spearmint itu sebanding dengan jumlah zat tidak murni yang terdapat di dalam air dan menyimpulkan bahan terrestrial atau bahan tanah adalah penyusun utama vegetasi di samping air sendiri. Meskipun kesimpulannya secara keseluruhan belum benar, namun hasil penelitiannya itu telah memberi andil besar untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Teknik percobaan yang diterapkannya jauh lebih maju dari rekan seprofesinya.
Menjelang akhir abad ke XVIII perlu dicatat seorang ahli pertanian bangsa Inggris Arthur Young (1741 – 1820). Young membuat percobaan pot untuk menyelidiki bahan mana yang lebih mampu meningkatkan hasil tanaman. Dalam percobaan ini beliau menanam barley (sejenis padi-padian) pada medium pasir yang kedalamannya ditambahkan bahan-bahan seperti arang, minyak kereta api (train oil), kotoran ayam, spiritus dari anggur, nitrat, mesiu senjata (gun powder), empelur, kulit kerang dan berbagai bahan lainnya. Beberapa dari bahan ini dapat menghasilkan pertumbuhan tanam-tanaman, sedang beberapa bahan lainnya tidak dapat tumbuh. Young menuangkan hasil-hasil penelitiannya ke dalam “Annals of Agriculture” sebanyak 46 volume yang berpengaruh bagi kemajuan pertanian Inggris.
Kebanyakan tulisan-tulisan yang disiarkan pada abad ke XVII dan XVIII merefleksikan gagasan, bahwa tetumbuhan itu dibangun oleh satu zat (substance) saja. Pada umumnya selama periode ini peneliti-peneliti itu menitik beratkan risetnya terhadap apa sebenarnya yang menyusun tanaman dan dari mana asalnya. Barulah menjelang penutupan abad ke XVIII, Francis Home mengemukakan, bahwa bukan satu seperti air tanah, zat berasal dari udara, garam-garam dan minyak. Home merasa, masalah pertanian adalah masalah hara yang esensial untuk pertumbuhan tanam-tanaman. Beliau juga melakukan percobaan-percobaan pot dalam usaha mengukur pengaruh penggunaan zat-zat yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman dan melakukan analisa kimia bahan tanaman. Hasil penelitiannya dianggap sebagai batu loncatan menuju ke pertanian ilmiah.
Penemuan oksigen oleh Priestly di sekitar tahun 1775 merupakan kunci pembuka rahasia dari sejumlah pertanyaan yang menyelubungi “Mystery of plant life”. Jan Ingenhousz (1730 – 1799) menunjukkan, bahwa penjernihan udara terjadi jika adanya cahaya, tetapi dalam ruangan gelap, udara tidak dapat dijernihkan. Bersamaan dengan penemuan ini statemen Jean Senebier (1742-1809) berbangsa Swiss yang berpendapat, bahwa peningkatan berat pohon willow dari percobaan Van Helmont disebabkan oleh pengaruh udara.


Read more »»  

Sejarah Perkembangan Penelitian Kesuburan tanah

Setelah tahun berganti tahun, maka suatu saat mulailah manusia meninggalkan pola hidup berpindah dan mulai menetap pada suatu tempat. Keluarga-keluarga, clan-clan, dan kampung-kampung berkembang dan bersamaan dengan perkembangan ini mulailah mereka mencoba bercocok tanam, yang akhirnya kita sebut sebagai pertanian (agriculture). Telah lama kita sepakati, bahwa salah satu daerah di permukaan bumi yang memperlihatkan permukaan perkembangan civiliasi ialah Mesopotamia, terletak di antara sungai-sungai Tigris dan Euphrat yang sekarang kita kenal dengan nama Irak. Dicatat kira-kira 2500 tahun sebelum masehi daerah ini sangat makmur penduduknya, tanah cukup subur dan dilaporkan setiap satu biji tanaman yang ditanamkan pada tanah ini memberikan hasil panen antara 86 hingga 300 biji. Dua ribu tahun kemudian daerah ini pernah dikunjungi oleh Herodotus, seorang ahli sejarah bangsa Yunani dan melaporkan kemakmuran petani di daerah itu dengan produksi tanaman yang tertinggi. Tingginya produksi ini mungkin disebabkan rakyat petani telah mengenal irigasi di samping tanahnya sendiri memang subur akibat endapan berasal dari banjir tahunan sungai-sungai di sekitarnya. Tahun 300 sebelum Masehi Theoprastus menulis tentang daerah ini dan melaporkan kesuburan tanah aluvial sungai Tigris dibentuk dari endapan debu yang berasal dari genangan sungai yang kadang-kadang cukup lama.
Pada suatu saat manusia itu mempelajari suatu kenyataan di lapangan, bahwa suatu tanah tang ditanami terus-menerus suatu saat akan menghasilkan produksi yang tidak lagi memuaskan. Usaha penambahan pupuk kandang ataupun pupuk hijau ke tanah ini untuk perbaikan kesuburan tanahnya, sebenarnya berkembang sebagai akibat hal tersebut di atas tadi, tetapi bagaimana dan kapan mulainya pemberian atau pemakaian bahan organik itu hingga kini belum diketahui. Xenophon yang hidup antara tahun 434-355 SM melaporkan, bahwa suatu usaha perkebunan akan mengalami kegagalan kalau dalam usaha pertaniannya itu pupuk kandang sama sekali tidak dilibatkan. Xenophon menganggap tidak ada sesuatunya sebaik pupuk kandang.
Theophrastus (372-287 SM) merekomendasikan pemakaian bahan kompos sebanyak-banyaknya untuk memupuk tanah yang tidak subur. Sebaliknya ia menganjurkan agar hati-hati dalam penggunaan kompos terhadap tanah yang subur. Beliau juga menasihatkan perlunya pembuatan lobang penampungan kotoran dan air seni binatang yang jika disimpan lama, lambat laun bahan ini meningkat mutunya. Theophrastus pulalah yang mula-mula berpendapat, bahwa tetumbuhan yang memerlukan makanan yang banyak membutuhkan pula sejumlah air yang banyak. Kebun buahan maupun sayuran di sekitar kota Athena dipersubur tanahnya dengan penggunaan sampah kota. Pada saat itu sistem kanal di tengah kota telah dikenal dan ada bukti bahwa aliran air dan kotoran di kanal itu diberi sistem pengatur untuk mendapatkan output yang berguna bagi pertanian sekitarnya. Pada saat itu petani telah pula menggunakan air yang mengandung pupuk kandang terlarut di dalamnya untuk memupuk tanaman anggur. Pupuk kandang (manure) diklassifikasikan menurut kesuburannya atau konsentrasinya. Theophrastus misalnya membuat suatu deretan pupuk kandang yang berkurang nilainya sebagai berikut: manusia, babi, kambing, biri-biri, lembu betina, lembu jantan dan kuda. Belakangan Varro, penulis pemula mengenai pertanian di zaman Romawi, melaporkan hal yang sama, tetapi menempatkan kotoran ayam dan burung lebih subur dibandingkan dengan tinja manusia. Columella menganjurkan agar lembu diberi makan “snail clover” (sejenis tanaman kacangan dari genus Trifolium), oleh karena beliau menganggap hal ini akan mempersubur ekskremen lembu.
Beberapa waktu sebelum ini, orang mulai mengobservasi pengaruh tubuh-tubuh mati dan berpendapat, bahwa bahan-bahan ini dapat pula dipakai sebagai bahan untuk membantu pertumbuhan tanaman. Bagaimana pentingnya nilai pupuk hijau tanaman, terutama leguminosa telah mulai diketahui orang. Theophrastus mencatat, bahwa sisa-sisa tanaman kacang (Vicia faba) telah dibenamkan orang ke dalam tanah ketika pengolahan tanah berlangsung yang dilakukan oleh petani-petani di Macedonia dan Thessalia. Beliau mengobservasi dan melaporkan, bahwa kendati tanaman berikutnya ditanam rapat dan menghasilkan biji-bijian cukup memuaskan, namun tanah tetap subur. Beliau belum lagi mengetahui adanya peranan bakteri bintil akar.
Cato (234-149 SM) menganjurkan penanaman tanaman sela acinum pada lahan tanaman anggur yang rendah kesuburan tanahnya. Hingga kini masih belum diketahui jenis tanaman apa yang dimaksud Cato dengan acinum, tetapi mungkin sejenis kacangan. Namun yang jelas penanaman campuran (mix-cropping) telah dikenal orang sebagai suatu cara untuk meningkatkan produktifitas tanah. Beliau juga mengemukakan, bahwa jenis leguminosa yang terbaik adalah kacang-kacangan, lupina dan vetch (Astragallus). Tanaman lupina merupakan jenis leguminosa yang amat populer di zaman ini. Seterusnya Columella mendaftarkan beragam leguminosa yang kesemuanya amat berpengaruh bagi peningkatan kesuburan tanah. Banyak penulis ketika itu memuji tanaman lupina sebagai pupuk hijau yang bagus. Di samping itu tanaman ini juga dapat tumbuh sempurna di bawah kondisi tanah yang berbeda-beda, dapat menghasilkan makanan untuk manusia serta binatang dan mudah menyemaikannya cepat tumbuh dan berkembang.
Penggunaan apa yang kita kenal sekarang sebgaai pupuk mineral (buatan) atau “soil amendment” (suatu masukan tanah) belum lagi dikenal di zaman ini. Theophrastus telah menganjurkan mencampur tanah yang berbeda sifatnya dalam usaha memperbaiki kekurangan sesuatu tanah. Cara ini memungkinkan perolehan keuntungan dari beberapa sudut. Penambahan tanah subur kepada tanah yang tidak subur akan menambah kesuburan tanah yang disebutkan terakhir, dan usaha pencampuran suatu jenis tanah lainnya dapat pula memungkinkan inokulasi bakteri bintil akar ke tanah lainnya. Pencampuran tanah tertekstur kasar dengan tanah bertekstur halus atau sebaliknya dapat pula meningkatkan hubungan antara air dan udara dalam tanah yang diperlakukan.
Nilai napal (marl) yakni bahan yang mengandung kapur, telah pula dikenal orang di Aegina dan di Yunani dan dianggap pertama sekali menggunakan bahan kapur untuk lahan pertanian. Cara ini belakangan dipelajari oleh bangsa Romawi dan mengembangkannya. Bahkan oleh ahli-ahli bangsa Romawi telah mengklassifikasikan berbagai bahan kapur itu dan membuat rekomendasi yang berbeda-beda untuk tanaman biji-bijian dan rumput makanan ternak. Plinneus (62-113 SM) mengemukakan bahwa bahan kapur sebaiknya ditebar merata di atas permukaan tanah dan perlakuan ini cukup untuk waktu yang agak lama. Sendawa atau KNO3 telah diutarakan oleh Plinneus sebagai bahan yang berguna untuk memupuk tanaman. Pada waktu itu juga diketahui tanaman palma membutuhkan garam asin dalam jumlah yang banyak. Petani-petani ketika itu telah pula menggunakan air garam pekat (bruin) disekitar batang pohon-pohonan. Kendati ahli tanah dimasa sekarang terus aktif mencari metoda untuk memprediksi kesegaran tanah untuk produksi tanaman-tanaman, demikian pula hal itu telah dilakukan oleh para ahli filosofi pertanian di zaman ini, dan penulis-penulis pun melakukan hal yang sama.
Warna tanah juga mendapat perhatian dalam menentukan kesuburan suatu tanah. Kebanyakan peneliti-peneliti pertanian di zaman dulu maupun di zaman sekarang mengemukakan bahwa, warna tanah dapat dipakai sebagai kriteria kesuburan suatu tanah. Pendapat umum peneliti ketika itu ialah tanah-tanah hitam adalah subur, sedangkan yang berwarna pucat atau kelabu adalah tidak subur atau rendah kesuburannya. Namun Columella tidak sependapat dengan hal ini. Ia menunjuk kepada ketidaksuburan tanah-tanah gambut dan tingginya kesuburan tanah yang berwarna pucat di Lybia. Beliau menduga, bahwa faktor-faktor lainnya seperti struktur, tekstur dan keasaman tanah merupakan petunjuk yang berguna untuk mengestimasi kesuburan tanah. Kebanyakan tulisan-tulisan yang berkenaan dengan kesuburan tanah tempo dulu sebagian besar hanya menyangkut prihal latihan pertanian saja. Hanya sedikit ditemukan bukti-bukti yang pendekatannya melalui percobaan-percobaan mengenai problematik usaha tani. Walaupun begitu umumnya manuskrip-manuskrip itu telah merefleksikan secara konprehensip berbagai faktor yang dewasa ini dikenal mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Beberapa diantara tulisan-tulisan di zaman dulu itu sampai sekarang masih terus ditelusuri. Rencana penelitian masih amat sederhana dan belum mengenal metoda-metoda statistik seperti masa kini.
Zaman bangsa Yunani antara 800-200 SM pada hakekatnya merupakan zaman emas. Banyak ditemukan orang-orang genius di periode zaman ini, kendatipun suara-suara itu acapkali ditekan oleh yang berkuasa. Tulisan-tulisan mereka, peradaban dan corak pertaniannya telah banyak dikopi oleh bangsa Romawi dan pola pikiran orang-orang Yunani ini telah pula mendominasi pikiran dunia selama lebih dari 2000 tahun.

Read more »»  

Rabu, Mei 02, 2012

PEMBENTUKAN GAMBUT

Lahan gambut adalah lahan yang memiliki lapisan tanah kaya bahan organik
(C-organik > 18%) dengan ketebalan 50 cm atau lebih. Bahan organik penyusun
tanah gambut terbentuk dari sisa-sisa tanaman yang belum melapuk sempurna
karena kondisi lingkungan jenuh air dan miskin hara. Oleh karenanya lahan gambut
banyak dijumpai di daerah rawa belakang (back swamp) atau daerah cekungan yang
drainasenya buruk.
Gambut terbentuk dari timbunan sisa-sisa tanaman yang telah mati, baik
yang sudah lapuk maupun belum. Timbunan terus bertambah karena proses
dekomposisi terhambat oleh kondisi anaerob dan/atau kondisi lingkungan lainnya
yang menyebabkan rendahnya tingkat perkembangan biota pengurai. Pembentukan
tanah gambut merupakan proses geogenik yaitu pembentukan tanah yang
disebabkan oleh proses deposisi dan tranportasi, berbeda dengan proses
pembentukan tanah mineral yang pada umumnya merupakan proses pedogenik
(Hardjowigeno, 1986).
Pembentukan gambut diduga terjadi antara 10.000-5.000 tahun yang lalu
(pada periode Holosin) dan gambut di Indonesia terjadi antara 6.800-4.200 tahun
yang lalu (Andriesse, 1994). Gambut di Serawak yang berada di dasar kubah
terbentuk 4.300 tahun yang lalu (Tie and Esterle, 1991), sedangkan gambut di Muara
Kaman Kalimantan Timur umurnya antara 3.850 sampai 4.400 tahun (Diemont and
Pons, 1991). Siefermann et al. (1988) menunjukkan bahwa berdasarkan carbon
dating (penelusuran umur gambut menggunakan teknik radio isotop) umur gambut di
Kalimantan Tengah lebih tua lagi yaitu 6.230 tahun pada kedalaman 100 cm sampai
8.260 tahun pada kedalaman 5 m. Dari salah satu lokasi di Kalimantan Tengah,
Page et al. (2002) menampilkan sebaran umur gambut sekitar 140 tahun pada
kedalaman 0-100 cm, 500-5.400 tahun pada kedalaman 100-200 cm, 5.400-7.900
tahun pada kedalaman 200-300 cm, 7.900-9.400 tahun pada kedalaman 300-400
cm, 9.400-13.000 tahun pada kedalaman 400-800 cm dan 13.000-26.000 tahun
pada kedalaman 800-1.000 cm.
Dari gambaran tersebut dapat dipahami bahwa pembentukan gambut
memerlukan waktu yang sangat panjang. Gambut tumbuh dengan kecepatan antara
0-3 mm tahun-1. Di Barambai Delta Pulau Petak, Kalimantan Selatan laju
pertumbuhan gambut sekitar 0,05 mm dalam satu tahun, sedangkan di Pontianak
sekitar 0,13 mm tahun-1. Di Sarawak Malaysia, laju pertumbuhan berjalan lebih cepat
yaitu sekitar 0,22 –0,48 mm per tahun (Noor, 2001 dari berbagai sumber).
Proses pembentukan gambut dimulai dari adanya danau dangkal yang
secara perlahan ditumbuhi oleh tanaman air dan vegetasi lahan basah. Tanaman yang mati dan melapuk secara bertahap membentuk lapisan yang kemudian menjadi
lapisan transisi antara lapisan gambut dengan substratum (lapisan di bawahnya)
berupa tanah mineral. Tanaman berikutnya tumbuh pada bagian yang lebih tengah
dari danau dangkal ini dan secara membentuk lapisan-lapisan gambut sehingga
danau tersebut menjadi penuh.
Bagian gambut yang tumbuh mengisi danau dangkal tersebut disebut
dengan gambut topogen karena proses pembentukannya disebabkan oleh topografi
daerah cekungan. Gambut topogen biasanya relatif subur (eutrofik) karena adanya
pengaruh tanah mineral. Bahkan pada waktu tertentu, misalnya jika ada banjir besar,
terjadi pengkayaan mineral yang menambah kesuburan gambut tersebut.
Tanaman tertentu masih dapat tumbuh subur di atas gambut topogen. Hasil
pelapukannya membentuk lapisan gambut baru yang lama kelamaan membentuk
kubah (dome) gambut yang permukaannya cembung. Gambut yang
tumbuh di atas gambut topogen dikenal dengan gambut ombrogen, yang
pembentukannya ditentukan oleh air hujan. Gambut ombrogen lebih rendah
kesuburannya dibandingkan dengan gambut topogen karena hampir tidak ada
pengkayaan mineral.

Read more »»  

METODE PENDUGAAN CADANGAN KARBON BAWAH PERMUKAAN LAHAN GAMBUT

Untuk menduga kandungan cadangan karbon (C) di bawah permukaan lahan gambut terlebih
dahulu harus diketahui volume gambut pada wilayah tertentu dan kelas tingkat
kematangannya. Volume gambut dapat diketahui dengan mengalikan ketebalan lapisan
gambut dengan luas wilayah lahan gambutnya. Ketebalan gambut diukur pada beberapa
titik/lokasi berbeda (agar datanya mewakili) dengan cara menusukkan tongkat kayu atau bor
tanah (gambut) ke dalam lapisan gambut hingga mencapai/ mengenai lapisan tanah
mineralnya, sedangkan luas lahan gambut dapat diketahui dari peta sebaran gambut yang
diperoleh dari hasil analisis dan interpretasi citra satelit dengan bantuan informasi dari peta
topografi dan peta geologi. Tingkat kematangan/ pelapukan gambut dapat diukur langsung di
lapangan dengan metoda sederhana seperti diuraikan di bawah ini. Sedangkan penentuan
bobot isi (bulk density) dan %-C-organik selain berasal dari pengukuran contoh gambut di
laboratorium juga merujuk kepada bebagai laporan yang berisikan hasil analisis beberapa
contoh tanah gambut (Tabel A) pada beberapa lokasi di Kalimantan.
Prosedur dalam pendugaan cadangan karbon bawah permukaan adalah sebagai berikut :
1. Pengukuran luas lahan
Pada prinsipnya, pengukuran luas lahan secara sederhana di lapangan dapat dilakukan
dengan mengalikan panjang dan lebar lahan. Namun pada kenyataan di lapangan,
pengukuran ini tidak semudah yang dibayangkan karena bentuk dan topografi lahan
bervariasi. Sehingga untuk mengatasinya dapat digunakan peta sebaran gambut dengan
segala kelengkapan informasinya pada skala besar (1:25.000 – 1:50.000) sebagai dasar
untuk membatasi (delineation) dan menghitung luas areal lahan gambut. Penentuan batas
dilakukan dengan mengacu kepada delineasi hasil interpretasi sedangkan penghitungan luas
areal lahan gambut dilakukan di peta, baik secara manual ataupun digital.
2. Pengukuran Ketebalan Gambut
Pengukuran ketebalan gambut dilakukan pada sebuah titik/lokasi pengukuran (boring, minipit)
yang dilakukan pada beberapa plot (Gambar A). Tahapan-tahapan yang harus dilakukan
adalah sebagai berikut :
• Masukan bor tanah gambut atau bor Eijkelkamp yang dimodifikasi (Gambar B) secara
bertahap, angkat bor untuk dicatat kedalamannya dan diambil contoh tanahnya, apabila
bor belum mencapai lapisan tanah mineral maka sambungkan dengan batang bor
berikutnya, ulangi pencatatan pada setiap penyambungan bor sampai mencapai tanah
mineral. (untuk praktisnya, bor biasa diganti dengan tongkat kayu atau besi begel panjang
yang ujungnya diruncingkan dan sebagian sisi ujungnya di sudet agar contoh tanah mineral
dapat sedikit terambil dan terlihat jelas sebagai tanda telah mencapai lapisan tanah
mineral. Tapi dengan alat semacam ini, contoh tanah gambut dari berbagai kedalaman
tidak dapat terambil).
• Disamping mencatat ketebalan, juga catat sifat lainnya seperti:perubahan warna (untuk
mengetahui kematangan gambut secara cepat), kelembaban lapisan atas (kering/
basah/lembab diamati secara visual), konkresi arang (ada tidaknya gambut bekas
terbakar), dan sebagainya.
• Untuk keperluan analisa kematangan tanah gambut (juga untuk analisa parameter fisik
dan kimia lainnya), ambil contoh tanah seberat 1-1,5 kg. Contoh diambil secara komposit,
yaitu dari campuran tanah gambut yang berasal dari berbagai lapisan kedalaman pada
titik bor yang sama. Simpan contoh dalam kantung plastik dan diberi label agar tidak
keliru dengan contoh tanah yang lainnya. Contoh tanah ini nantinya dapat digunakan
untuk mengetahui tingkat kematangan gambut, seperti diuraikan di bawah ini.
3. Penentuan Tingkat Kematangan
Dalam Keys to Soil Taxonomy (Soil Survey Staff, 1998) tingkat kematangan/ pelapukan tanah
gambut dibedakan berdasarkan tingkat dekomposisi dari bahan (serat) tanaman asalnya. Ketiga
macam tingkat kematangan tersebut adalah: (1) fibrik, (2) hemik dan (3) saprik. Karena
pentingnya tingkat kematangan ini untuk diketahui, maka untuk memudahkan pencirian di
lapangan, definisi tentang serat-serat ini harus ditetapkan terlebih dahulu.
Serat-serat diartikan sebagai potongan-potongan dari jaringan tanaman yang sudah mulai
melapuk (tidak termasuk akar-akar yang masih hidup) dengan memperlihatkan adanya struktur
sel dari tanaman asalnya. Potongan-potongan serat mempunyai ukuran diameter ≤ 2 cm,
sehingga dapat diremas dan mudah dicerai – beraikan dengan jari.
Potongan-potongan kayu berdiameter > 2 cm dan belum melapuk sehingga sulit untuk diceraiberaikan
dengan jari, seperti potongan-potongan cabang kayu besar, batang kayu dan tunggul
tidak dianggap sebagai serat-serat, tetapi digolongkan sebagai fragment kasar.
Penetapan tingkat kematangan/ pelapukan tanah gambut di lapangan sebagai berikut :
Ambil segenggam tanah gambut (hasil kegiatan No.2 di atas) kemudian diperas dengan telapak
tangan secara pelan-pelan, lalu lihat sisa-sisa serat yang tertinggal dalam telapak tangan :
• Bila kandungan serat yang tertinggal dalam telapak tangan setelah pemerasan adalah tiga
perempat bagian atau lebih (≥ ¾), maka tanah gambut tersebut digolongkan kedalam jenis
fibrik.
Bila kandungan serat yang tertinggal dalam telapak tangan setelah pemerasan adalah
antara kurang dari tiga perempat sampai seperempat bagian atau lebih (<3/4 - ≥ ¼), maka tanah gambut tersebut digolongkan kedalam jenis hemik. • Bila kandungan serat yang tertinggal dalam telapak tangan setelah pemerasan adalah kurang dari seperempat bagian (<1/4) maka tanah gambut tersebut digolongkan kedalam jenis saprik. Cara lain untuk mendukung penggolongan tingkat kematangan/ pelapukan tanah gambut tersebut adalah dengan memperhatikan warnanya. Jenis tanah gambut fibrik akan memperlihatkan warna hitam muda (agak terang), kemudian disusul hemik dengan warna hitam agak gelap dan seterusnya saprik berwarna hitam gelap. 4. Bobot Isi dan C-organik Sebetulnya penetapan bobot isi (Bulk Density/BD) tanah gambut dapat dilakukan secara langsung di lapangan dengan menggunakan metode bentuk bongkahan atau clod (Notohadiprawiro, 1983), tetapi kedua metode ini menghasilkan angka-angka BD yang lebih besar karena kandungan air di dalam bongkahan gambut masih tinggi. Sementara itu, pengukuran bobot isi tanah gambut, lebih banyak dilakukan di laboratorium dengan menggunakan ring core. Dalam metode ring core, untuk menghilangkan kandungan air dalam contoh, maka tanah gambut dikeringkan dalam oven (suhu 105o C selama 12 jam) dan diberi tekanan 33 – 1500 kPa, sehingga tanah menjadi kompak dan stabil. Dalam buku ini, metode penentuan nilai bobot isi (BD) pada tanah gambut mengikuti metode ring core seperti yang juga dilakukan oleh laboratorium Puslitbang Tanah dan Agroklimat (Staf Laboratorium Kimia, 1998). Kandungan C-organik dalam tanah gambut tergantung tingkat dekomposisi-nya. Umumnya pada tingkat dekomposisi lanjut seperti hemik dan saprik akan memperlihatkan kadar C-organik lebih rendah dibanding dengan fibrik. Proses dekomposisi menyebabkan berkurangnya kadar C dalam tanah gambut. Wahyunto et al., (2004), telah mentabulasikan nilai-nilai BD dan C-organik di Kalimantan pada berbagai tingkat kematangan/pelapukan tanah gambut seperti terlihat pada Tabel A. Nilai-nilai yang dikumpulkan ini berasal dari hasil analisis langsung beberapa contoh tanah pewakil di seluruh Kalimantan, serta dari berbagai data hasil penelitian tanah gambut di Kalimantan beberapa tahun sebelumnya (diantaranya oleh IPB dan Puslitbang Tanah & Agroklimat). Nilainilai tersebut dapat digunakan untuk menghitung kandungan cadangan karbon (lihat rumus) pada tanah gambut di Kalimantan atau mungkin juga lokasi-lokasi lainnya di Indonesia. 5. Rumus Perhitungan Pendugaan Cadangan Karbon Bawah Permukaan Parameter yang digunakan untuk menghitung cadangan karbon bawah permukaan (below ground) adalah luas lahan gambut, kedalaman atau ketebalan tanah gambut, bobot isi (BD) dan kandungan karbon (C-organik) pada setiap jenis tanah gambut. Rumus yang digunakan tersebut adalah : Kandungan karbon (KC) = B x A x D x C Dimana : KC = Kandungan karbon dalam ton B = Bobot isi (BD) tanah gambut dalam gr/cc atau ton/m3 A = Luas tanah gambut dalam m2 D = Ketebalan gambut dalam meter C = Kadar karbon (C-organik) dalam persen (%)


Read more »»  

Sabtu, April 28, 2012

INVENTARISASI ENDAPAN GAMBUT DAERAH BARAMBAI DAN SEKITARNYA KAB. BARITO KUALA, PROV. KALIMANTAN SELATAN

Oleh
J.A. Eko Tjahjono
Kelompok Program Penelitian Energi Fosil
SARI
Daerah penyelidikan endapan gambut terletak di Daerah Barambai dan sekitarnya, yang berjarak 50 Km sebelah Baratlaut Kota Banjarmasin. Secara Administratip masuk dalam wilayah Kecamatan Barambai, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Secara Geografis daerah penyelidikan dibatasi dengan koordinat 2050’00” sampai 3005’00” LS dan 114030’00” sampai 114045’00” BT. Luas daerah penyelidikan sekitar 756 Km2.
Geologi regional daerah penyelidikan terletak dalam Cekungan Barito yaitu pada posisi “Back Arch Basin”. Batuan tertua yang terdapat disekitar daerah tersebut yaitu batuan yang berumur Pra-Tersier, yang tersingkap disekitar lereng barat Pegunungan Meratus, terletak disebelah Timur daerah penyelidikan, antara lain terdiri dari batuan Pra-Tersier dan batuan sedimen Tersier dari Formasi Tanjung, Berai, dan Formasi warukin. Terakhir yaitu endapan batuan Kuarter yang berumur Plistosen dari Formasi Dahor dan batuan Holosen yang berupa endapan Aluvium, tediri dari endapan pasir, lempung, sisa-sisa tumbuhan dan endapan gambut yang diendapkan dalam lingkungan paralic sampai fluviatil. Daerah inventarisasi umumnya didominasi oleh endapan gambut yaitu sekitar 50%, sedangkan sisanya berupa endapan aluvial sungai.
Data fisik gambut di daerah ini berwarna cokelat tua hingga kehitaman, dengan derajat pembusukan sedang sampai tinggi, yaitu H5 – H7 (hemic - safric) dalam skala Van Post, kandungan serat umumnya sekitar 10% sampai 15%, sedikit terdapat serat kayu dan akar, kandungan air cukup tinggi. Ketebalan endapan gambut mencapai lebih dari 5 meter.
Hasil rata-rata analisis kimia contoh gambut, menunjukkan bahwa Lembab Nisbi sekitar 89,32%; Lembab Jumlah 90,34%; Moisture 9,57%; Zat Terbang 53,79%; Karbon tertambat 31,29%; Abu 5,35%; Total Sulphur 0,97%; keasaman 3,2; Bulk Density 0,127 dan Nilai Kalori rata-rata sekitar 4828 Cal/gr.
Sumberdaya Tereka endapan gambut yang tebalnya lebih besar dari 1 meter di daerah penyelidikan yaitu sekitar 9.582.683 Ton gambut kering, dengan luas lahan gambut yang tebalnya lebih dari 1 meter yaitu sekitar 4.010 Hektar.
PENDAHULUAN
Maksud dan Tujuan.
Dalam rangka merealisasikan kebijakan pemerintah, tentang diversifikasi penggunaan energi lain selain minyak bumi, yang harus terus digalakkan, guna menunjang tersedianya kebutuhan energi yang berkelanjutan, agar laju pertumbuhan perekonomian di Indonesia dapat berjalan secarara progresif, oleh karena itu perlu adanya gagasan baru yang menyangkut mengenai antisipasi kondisi tersebut, yaitu dengan melakukan penyelidikan mengenai endapan gambut yang diperkirakan banyak terdapat di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di Kabupaten Barito Kuala yang terkenal sebagai bagian dari lahan gambut sejuta hektar.
Tujuan penyelidikan ini yaitu untuk mengetahui sebaran, ketebalan, sumber daya, mutu, bentuk endapan dan kondisi geologi endapan gambut di daerah penyelidikan. Selain hal tersebut juga untuk mengetahui data umum wilayah seperti infra struktur, kondisi sosial masyarakat, iklim, curah hujan, demografi dan hal-hal lain yang erat kaitannya dengan kegiatan selanjutnya. Seluruh data yang didapat diharapkan merupakan data inventarisasi yang akan menunjang dalam menentukan prospek pemanfaatan dan pengembangan penggunaannya dikemudian hari.
Tujuan lain penyelidikan endapan gambut di wilayah Kabupaten Barito Kuala, yaitu selain
inventarisasi untuk penyusunan data base dan penambahan informasi mengenai keanekaragaman bahan galian yang terdapat di daerah tersebut, juga bertujuan untuk menggali potensi bahan energi yang mungkin dapat dikembangkan sebagai penunjang pertumbuhan perekonomian maupun perolehan devisa daerah setempat.
Lokasi Daerah Penyelidikan.
Daerah penyelidikan terletak di bagian hilir antara Sungai Barito dengan Sungai Kapuas Murung, yaitu sekitar 50 Km Baratlaut Kota Banjarmasin dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor. Secara administratip, lokasi daerah penyelidikan termasuk dalam wilayah Kecamatan Barambai dan sekitarnya, Kab. Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan ( Gambar 1 ). Secara Geografis daerah penyelidikan dibatasi oleh koordinat 2050’00” sampai 3005’00” Lintang Selatan dan 114030’00” sampai 114045’00” Bujur Timur. Peta dasar yang dipergunakan yaitu Peta Rupabumi Indonesia dari Bakosurtanal Kedar 1 : 50.000 ( lembar Peta Palingkau Baru 1713-21 ) dan ( lembar Peta Belawang 1712-53 ) serta Peta Geologi Lembar Amuntai dan Banjarmasin Kedar 1 : 250.000. Luas daerah penyelidikan sekitar 756 Km2 (27,5 Km Panjang x 27,5 Km Lebar).
GEOLOGI REGIONAL.
Stratigrafi Regional.
Daerah penyelidikan terdapat dalam cekungan Barito, yaitu pada posisi “Back Arch Basin”. Batuan tertua yang dijumpai disekitar daerah tersebut yaitu batuan yang berumur Pra-Tersier, yang tersingkap disekitar lereng barat Pegunungan Meratus, yaitu terletak disebelah Timur daerah penyelidikan, antara lain terdiri dari batuan Pra-Tersier dan batuan sedimen Tersier dari Formasi Tanjung, Berai, dan Formasi warukin. Terakhir yaitu endapan batuan Kuarter yang berumur Plistosen yang terdapat Formasi Dahor dan pada Holosen terdapat endapan Aluvium, yang mana pada endapan aluvium tersebut terdapat endapan pasir, lempung, sisa-sisa tumbuhan dan endapan gambut yang diendapkan dalam lingkungan paralic sampai fluviatil ( Gambar 2 )
Formasi batuan Tersier tertua yang tersingkap disekitar Kabupaten Barito Kuala yaitu Formasi Tanjung, tersingkap pada bagian timur daerah kabupaten tersebut, sedangkan formasi-formasi batuan lainnya yang tersingkap yaitu Formasi Berai, Warukin dan Formasi Dahor serta Satuan Endapan Permukaan yang berupa aluvial dan gambut ( Tabel 1 ). Stratigrafi satuan batuan yang terdapat di daerah penyelidikan hanyalah berupa Satuan endapan alluvium dan gambut yang berumur Holosen, yang hampir seluruhnya di dominasi oleh endapan gambut dan sedikit endapan aluvial.
Struktur Geologi
Secara umum daerah penyelidikan tersebut berupa pedataran, sedangkan struktur geologi yang berhubungan dengan kegiatan tektonik, tidak dijumpai di lokasi daerah penyelidikan, akan tetapi disebelah timur wilayah Kabupaten Barito Kuala terdapat beberapa struktur sinklin dan antiklin, yang dikenal dengan nama antiklinorium Meratus, yang terdapat di bagian timurlaut Kota Banjarmasin dan sekitarnya, yang sumbu sumbu utama umumnya berarah timurlaut - baratdaya. Sedangkan patahan naik umumnya juga berarah timurlaut - baratdaya.
Indikasi Endapan Gambut.
Potensi lahan gambut di Indonesia merupakan peringkat nomer empat terbesar dunia, dan berdasarkan kajian pustaka diambil dari tulisan penyelidikan terdahulu, yaitu mengenai dataran rendah dan rawa-rawa sepanjang pantai timur Sumatra dan pantai barat sampai selatan Kalimantan yang terbentuk kira-kira 5000 tahun yang lalu, menyebutkan bahwa Wilayah Pesisir barat sampai selatan Pulau Kalimantan umumnya terdiri dari endapan gambut yang sangat luas, seperti halnya di daerah Inventarisi disekitar lokasi daerah penyelidikan, yaitu di daerah Barambai dan sekitarnya, Kabupaten Barito Kuala, dari 50% wilayahnya didominasi oleh endapan gambut, sisanya berupa endapan aluvial
Indikasi endapan gambut di lapangan, yaitu ditandai dengan adanya morfologi bentang alam pedataran. Terdapat rawa-rawa yang airnya berwarna cokelat tua sampai kehitaman, dengan pola aliran air yang bermeander dan mempunyai ketinggian permukaan yang hampir sama dengan permukaan air laut. Tanah di daerah ini
umumnya berwarna cokelat tua sampai kehitaman, sangat lunak dan mudah ditusuk-tusuk, tanah di daerah tersebut umumnya kurang subur, meranggas serta kering, asam dan mudah terbakar pada musim kemarau, yang disebabkan oleh turunnya permukaan air tanah pada endapan gambut, sehingga endapan gambut menjadi sangat kering. Pada endapan gambut yang mempunyai ketebalan kurang dari 1 meter, umumnya dijumpai pemukiman penduduk, perkebunan tanaman keras seperti kelapa sawit, tetapi pada endapan gambut yang mempunyai ketebalan lebih dari 1 meter umumnya ditumbuhi oleh tanaman semak seperti rerumputan liar serta hutan kayu galam yang khas terdapat di daerah Kalimantan Selatan.
KEGIATAN PENYELIDIKAN
Penyelidikan Lapangan.
Penyelidikan tersebut yaitu untuk melakukan evaluasi mengenai sumberdaya dan kualitas endapan gambut pada lokasi daerah penyelidikan, dengan melakukan kegiatan pengukuran koordinat memakai alat GPS, serta ketinggian permukaan lokasi titik bor gambut memakai alat Altimeter, dan melakukan kegiatan bor tangan untuk uji kedalaman serta pengukuran ketebalan endapan gambut dengan melakukan diskripsi hasil bor, disertai pengambilan contoh gambut untuk dianalisis di laboratorium kimia dan fisika mineral. Dari perolehan data lapangan tersebut akan dibuat tabel lokasi titik-titik bor gambut, yang berisi koordinat titik bor, ketinggian topografi gambut pada lubang bor dan ketebalan endapan gambut.
Dari perolehan data endapan gambut pada daerah penyelidikan, akan dibuat isopach endapan gambut dengan interval 1 meter dan penampangan, dengan sekala 1 : 50.000. Hal ini dilakukan untuk menghitung cakupan sumberdaya endapan gambut disekitar daerah tersebut, demikian pula mengenai evaluasi kualitasnya.
Metoda Pengumpulan Data, meliputi pengumpulan data sekunder dan data primer. Pengumpulan data sekunder merupakan pengumpulan data sebaran endapan gambut yang diperkirakan tersebar di daerah penyelidikan, yang dapat diperoleh dari kantor PEMDA dan kantor terkait lainnya serta dari usaha pertambangan, yang digabungkan dengan data yang ada di Pusat Sumber Daya Geologi, sedangkan data primer yaitu data endapan gambut yang diperoleh dari pelaksanaan pekerjaan lapangan di daerah penyelidikan dan sekitarnya, yang meliputi pekerjaan Pemetaan, Pemboran, Pengukuran, Pencatatan, Pengambilan contoh endapan gambut dan sebagainya, dengan menggunakan peralatan lapangan.
Pengumpulan Data Lapangan
Meliputi pengumpulan data primer, yaitu melakukan penyelidikan dan evaluasi mengenai sebaran, bentuk endapan dan sumberdaya serta kualitas endapan gambut pada lokasi daerah sasaran, dengan melakukan kegiatan penyelidikan lapangan sebagai berikut :
-Pemetaan Geologi, yaitu untuk menentukan batas-batas sebaran satuan batuan yang ada disekitar daerah inventarisasi, terutama batas antara endapan alluvial dengan endapan gambut di daerah penyelidikan dan sekitarnya.
-Pemboran, dengan menggunakan bor tangan, yaitu sebagai bor uji kedalaman serta ketebalan endapan gambut dari Top sampai Bottomnya, yang dilakukan secara acak dan semi sistematis dengan interval jarak tertentu, yang nantinya untuk pembuatan Peta sebaran dan Isopach endapan gambut.
-Pengukuran Koordinat dengan GPS serta Ketinggian Permukaan Lokasi Titik Bor gambut dengan menggunakan alat altimeter, yang selanjutnya untuk di plot pada peta kerja, guna pembuatan penampangan endapan gambut.
-Mendiskripsi dan mencatat hasil pemboran gambut mengenai ciri-ciri dan perubahan sifat fisik endapan gambut, seperti warna, tingkat pembusukan, kandungan serat dan akar, serta klasifikasi lainnya sampai ke dasar endapan gambut.
-Pengambilan contoh endapan gambut pada posisi kedalaman tertentu secara komposit, dengan kode tertentu, yang nantinya akan dianalisis di Laboratorium.
Data Pemboran Gambut.
Data pemboran endapan gambut di daerah penyelidikan tersebut, dibuat dari hasil kegiatan pemboran tangan gambut dan pengukuran koordinat serta ketinggian dari setiap lokasi titik-titik bor di lapangan. Penempatan lokasi titik-titik bor di lapangan tersebut direncanakan dan ditentukan secara acak dan semi sistematis yang disesuaikan dengan sarana dan prasarana yang ada di lapangan, yaitu dengan cara menyusuri sungai, jalan setapak kanal dan paritan.
Jarak titik-titik bor terdekat yaitu berkisar dari 250 meter hingga 1500 meter dalam setiap jarak penyusuran lintasan pemboran. Setiap titik lokasi bor telah diukur koordinatnya dengan menggunakan GPS 12CX merek Garmen dan diukur ketinggiannya dari permukaan air laut dengan menggunakan alat ukur altimer SILVA merek Alba, yang mana mengambil datum yang ada dari Desa Antar Jaya dengan ketinggian sekitar 12 meter dari permukaan air laut.
Daerah penyelidikan dialiri sungai besar utama yaitu Sungai Barito dan Sungai Kapuas Murung yang terdapat pada bagian timur dan barat daerah penyelidikan, mengalir dari arah timurlaut kearah baratdaya yang dihubungkan dengan tiga buah kanal utama dan puluhan Kanal Sekunder, maka dari beberapa Kanal Sekunder dihubungkan dengan paritan tersier dan jalan setapak. Kegiatan pemboran gambut di sekeliling daerah penyelidikan tersebut telah dilakukan pemboran sebanyak 70 lokasi titik bor, yaitu dari kode nomor bor BR-01 sampai BR-70, yang letaknya kira kira terdapat pada bagian tengah sebelah utara daerah penyelidikan, yang mana diperkirakan masih banyak terdapat adanya sebaran endapan gambut. Oleh karena itu, data titik-titik bor endapan gambut yang menyangkut data ketebalan, koordinat dan elevasi titik bor, telah dirangkum dan ditabulasikan.
Sifat Fisik Endapan Gambut.
Warna, warna endapan gambut yang terdapat dekat permukaan, setempat dijumpai berwarna cokelat tua sampai kehitaman. Warna hitam diperkirakan karena pengaruh dari terbakarnya material pembentuk gambut di permukaan, serta pengaruh dari derajat pembusukan dan kandungan zat organik. Selanjutnya di bagian tengah, umumnya endapan gambut berwarna cokelat tua, warna ini bergradasi menjadi cokelat kehitaman bila semakin dekat dengan dasar sedimentasi. Dasar sedimentasi umumnya berupa endapan lempung dan lanau, berwarna abu-abu gelap, dengan sisipan tipis berupa laminasi dari karbonan sisa tumbuh-tumbuhan.
Derajat Pembusukan (H), derajat pembusukan endapan gambut di daerah tersebut, teutama yang dekat permukaan, mempunyai tingkat pembusukan relatip sedang, adapun untuk daerah yang mendekati dasar cekungan, derajat pembusukannya tinggi. Namun secara umum sebaran ke arah horisontal tidak memperlihatkan perubahan perbedaan yang mencolok, terutama pada bagian tengah yang mempunyai tingkat pembusukan sedang, yang menurut sekala Van Post yaitu berkisar dari H5 sampai H7, atau dalam kelompok Hemic - Safric sampai Safric dengan kandungan serat berkisar dari 10% - 15%.
Kandungan kayu (W), kandungan kayu dalam satu sekuen dari atas sampai ke bawah dalam suatu endapan gambut yaitu tidak homogen, kandungan kayu dijumpai pada bagian bawah dalam jumlah yang relatip rendah dibandingkan pada bagian atas, hal ini dipengaruhi oleh faktor derajat pembusukan serta kecepatan pembentukan gambut, biasanya kayu yang terdapat dibawah muka air tanah, lebih cepat mengalami proses penggambutan, sedangkan kayu yang terdapat diatas muka air tanah mengalami pembusukan. Kandungan kayu di daerah tersebut hanya sekitar 5% sampai 10%.
Kandungan Akar (R), umumnya dijumpai pada bagian atas dalam endapan gambut, tetapi jumlahnya tidak banyak, yaitu berkisar dari 5% sampai 10%. Akar ini diperkirakan berasal dari tumbuhan baru yang baru tumbuh diatas tanaman lama yang sudah hancur.
Kandungan Air (M), kandungan air atau kelembaban berkaitan erat dengan kondisi muka air tanah. Gambut yang terdapat diatas muka air tanah biasanya mempunyai kelembaban sekitar 80% sampai 90%, sedangkan yang terdapat dibawah muka air tanah biasanya mempunyai kelembaban lebih besar dari 90%. Kondisi kandungan air tersebut juga dipengaruhi oleh keadaan cuaca pada saat pengambilan contoh di lapangan.
Analisis Laboratorium.
Secara megaskopis, endapan gambut berwarna cokelat tua kehitaman, dengan derajat pembusukan di daerah tersebut relatip sedang sampai tinggi. Kandungan kayu dan akar dalam satu sekuen dari atas sampai ke bawah yaitu tidak homogen dan relatip sedikit. Kandungan air atau kelembaban cukup besar. Analisa kimia dan fisika contoh endapan gambut dilakukan secara komposit, adapun jenis pengerjaan analisis kimia dan fisika contoh gambut di laboratorium dengan parameternya yang akan diuji yaitu: Lembab Nisbi (LN), Lembab Jumlah (LJ), Persentasi Air Tertambat (M), Zat Terbang (VM), Karbon Tertambat (FC), Kandungan Abu (Ash), Sulfur Total (S), Bulk Density (BD), Nilai Kalori (CV) dan Keasaman (pH). Adapun contoh endapan gambut yang telah diuji di laboratorium yaitu berjumlah sebanyak 12 buah contoh, yang mana diperkirakan dapat mewakili daerah penyelidikan tersebut secara proporsional, yaitu yang diambil pada setiap perubahan interval ketebalan dari endapan gambut di lapangan, yang mana contoh gambut tersebut dicampur dari bagian atas sampai bawah secara komposit. Contoh gambut yang telah dianalisis di laboratorium adalah sesuai dengan daftar kode contoh dari lapangan sebagai berikut : BR-04, BR-08, BR-20, BR-28, BR-32, BR-40, BR-43, BR-45, BR-50, BR-55, BR-60, BR-68.
HASIL PENYELIDIKAN
Geologi Endapan Gambut.
Pada Awal Kuarter adalah merupakan Zaman Es (Diluvium), sehingga terjadi penurunan muka air laut (regresi) yang menyebabkan erosi kuat di hulu-hulu sungai dan menghasilkan endapan batuan kasar seperti gravel dan kerikil yang disebut “Old alluvium” yang diendapkan di atas sedimen Tersier yang menjadi dasar cekungan gambut.
Setelah akhir dari fase regresi, yang berlangsung pada perioda “Wurm”, yaitu pada Akhir Plistosen sampai Awal Holosen, dengan mencairnya Zaman Es, maka permukaan air laut naik (transgresi) perlahan sampai sekarang. Peningkatan air laut tersebut dibarengi dengan Peningkatan suhu dan curah hujan di daerahKalimantan dan Sumatera, yang menyebabkan batuan di sepanjang Perbukitan Scwaner dan Meratus mengalami pelapukan kimia yang kuat dan menghasilkan endapan lempung halus pada garis pantai di Pesisir pantai barat dan selatan Kalimantan, sehingga garis pantai semakin maju kearah laut, selanjutnya terbentuklah tanggul-tanggul sungai, meander dan rawa-rawa yang segera ditumbuhi oleh tanaman rawa seperti nipah dan bakau yang kemudian disusul oleh tumbuhan hutan rawa. Lingkungan pengendapan yang tadinya Fluvial berubah menjadi Paralik, yang mana tumbuhan dan binatang air tawar mulai berkembang.
Tumbuhan yang telah mati, roboh dan sebagian besar terendam terawetkan dalam rawa-rawa, yang jenuh air dan tidak teroksidasi, selanjutnya dengan bantuan bakteri aerobic dan baketi anaerobic, tumbuhan tersebut terurai menjadi sisa-sisa tumbuhan yang lebih stabil, yang selanjutnya terproses menjadi endapan organic yang disebut gambut (peatification). Sifat dari endapan gambut ini adalah selalu jenuh air hingga 90% walaupun letaknya diatas permukaan laut, seperti yang terdapat pada daerah lokasi inventarisasi. Adapun endapan gambut yang terdapat di daerah ini disebut gambut naik (rise mire) atau disebut juga gambut Ombrothrop, yang berbentuk seperti kubah (dome). Berdasarkan data pengukuran dasar (bottom) endapan gambut di daerah tersebut, pada umumnya diatas permukaan laut, yang menunjukkan bahwa permukaan air laut di daerah tersebut turun kembali setelah terjadinya endapan gambut.
Potensi Endapan Gambut.
Potensi endapan gambut di daerah penyelidikan yaitu relatif tidak banyak bila dibandingkan dengan lahan gambut yang ada di pesisir barat dan selatan Kalimantan lainnya, karena selain sebarannya sedikit dan tipis tipis, serta sering dibakar oleh penduduk, luas gambut hanya tinggal ribuan Hektar saja, adapun model dan bentuk geometri endapan gambut tersebut seperti kubah atau dome yang umumnya cembung kebawah. Gambut di daerah ini berwarna cokelat tua sampai kehitaman, tidak banyak mengandung serat kayu dan akar, tingkat pembusukannya relatip sedang sampai tinggi, oleh karena itu gambut di daerah ini dapat digunakan sebagai briket bahan bakar, maupun sebagai bahan baku media tanaman.
Berdasarkan hasil olah data di lapangan, maka data ketebalan endapan gambut dari 70 buah lokasi titik-titik bor, yang telah menghasilkan bentuk sebaran dan gambaran mengenai isopach endapan gambut yang berinterval 1 meter, dapat diketahui bahwa endapan gambut di daerah tersebut mempunyai model endapan yang berbentuk kubah ( dome ) yang mempunyai ketinggian bottom kubah sekitar 7 meter dan top kubah sampai 12 meter diatas muka air laut serta mempunyai ketebalan hingga lebih dari 5 meter ( Gambar 3 ), maka Sumberdaya Tereka endapan gambut yang tebalnya lebih besar dari 1 meter di daerah penyelidikan tersebut dapat dihitung.
Perhitungan tonase sumberdaya endapan gambut kering tersebut yaitu dalam bentuk perkalian Volume Gambut basah dengan besaran Bulk Density, sedangkan Volume Gambut basah diperoleh dari perkalian antara Luas antar Isopach sebaran gambut dikalikan dengan ketebalan rata-rata antar isopach tersebut. Luas daerah sebaran endapan gambut di Blok Barat yaitu sekitar 24.438.043m2 dan di Blok Timur sekitar 15.662.957m2 Sehingga luas sebaran endapan gambut seluruhnya yaitu sekitar 40.100.998m2 atau sekitar 4.010 Hektar. Maka hasil perhitungan Sumberdaya Tereka endapan gambut kering yaitu sekitar 9.582.683 Ton, dengan ketentuan bahwa besaran dari Bulk Density yaitu berkisar sekitar 0,12 sampai 0,14. Keterangan lain mengenai hasil perhitungan Sumberdaya Tereka endapan gambut di daerah penyelidikan tersebut dirangkum dan ditabulasikan seperti dalam tabel ( Tabel 3 )
Maka total sumberdaya Tereka endapan gambut di daerah penyelidikan yang mempunyai ketebalan antara 1 meter sampai lebih dari 5m yaitu sekitar 9.582.683 Ton gambut kering, dan mempunyai luas sebaran endapan gambut yang mempunyai ketebalan lebih dari 1 meter yaitu sekitar 4.010 Hektar.
Dari hasil analisis laboratorium telah diperoleh kesimpulan bahwa nilai kisaran analisis kimia dan fisika endapan gambut di daerah penyelidikan adalah sebagai berikut : 1. Lembab Nisbi berkisar dari 84,13 % sampai 99,36 %; 2. Lembab Jenuh berkisar dari 85,50 % sampai 99,42 %; 3. Moisture berkisar dari 8,64 % sampai 10,39 %; 4. Volatile Matter berkisar dari 48,26 % sampai 56,30 %; 5. Fixed Carbon berkisar dari 28,03 % sampai 32,31 %; 6. Ash (abu) berkisar dari 3,25 % sampai 15,07 %; 7. Total Sulphur berkisaran dari 0,85 % sampai 1,27 %; 8. Bulk Density berkisar dari 0,11 sampai 0,14; 9. Ph (keasaman) berkisar dari 3,0 sampai 3,5; 10. Calorific Value, berkisar 4254 sampai 5051 Cal/gr. ( Tabel 2 )
Prospek Pemanfaatan Gambut.
Prospek pemanfaatan dan pengembangan endapan gambut, mengingat sebaran lahan gambut yang relatif tidak luas di daerah ini, maka pemanfaatan lahan gambut tersebut dapat dibagi menjadi 3 kelompok zona daerah berdasarkan ketebalannya, yaitu :
Kelompok pertama, daerah lahan gambut yang mempunjai ketebalan gambut kurang dari 1 meter, disarankan dapat digunakan sebagai lahan pemukiman penduduk dan persawahan, karena daerah ini sebagian besar terdiri dari endapan alluvial dan gambut tipis. Pembuatan bangunan di daerah ini akan lebih stabil bila dibandingkan dengan daerah lainnya, dan persawahan akan lebih baik karena mengandung nutrisi yang cukup.
Kelompok kedua, daerah lahan gambut yang mempunyai ketebalan gambut berkisar dari 1 meter hingga 2 meter, disarankan dapat digunakan sebagai lahan perkebunan, terutama tanaman keras seperti kelapa sawit, karet dan kayu-kayuan lainnya, karena akar tanaman keras tersebut masih bisa mencapai pada lapisan sedimen yang berada dibawah lapisan gambut bila sistem pengairannya baik.
Kelompok ketiga, daerah lahan gambut yang mempunyai ketebalan gambut lebih dari 2 meter dan posisinya berada diatas muka air laut, disarankan dapat dimanfaatkan untuk bahan baku industri, sebagai bahan baku energi industri yang berupa briket dan sebagainya, karena menurut hasil analisis megaskopis gambut di daerah ini adalah baik untuk bahan baku energi dan media tanaman, disarankan pula bila ketinggian gambut dibawah atau sama dengan permukaan air tanah, sebaiknya lahan gambut ini baik untuk konservasi alam guna menjaga ekosistem lingkungan air tanah dan sebagainya.
Kegunaan gambut yaitu dapat dimanfaatkan pada berbagai keperluan seperti bahan bakar dan bahan dasar industri. Sebagai bahan bakar bisa berupa sod peat dan milled peat, yang kemudian dapat dikembangkan lagi menjadi briquettes, pellets, gas dan lainnya. Bahan bakar ini dapat digunakan untuk industri seperti industri pembangkit tenaga listrik, semen, keramik, gelas atau dipakai untuk keperluan rumah tangga. Sebagai bahan dasar industri, gambut dapat menghasilkan bahan-bahan tertentu setelah mengalami proses tertentu pula, seperti untuk lumpur pemboran, pelarut plastik, karbon aktip yang berporosity tinggi, macam-macam gas, lilin, bahan penyerap (air, protein, sulfat dan pewarna), bila ditambah sodium sulfat dapat menyerap logam berat (Air raksa, Pb, Cd), dengan menambah unsur tertentu gambut dapat dipakai sebagai pupuk, dan serat-serat gambut dapat dipakai sebagai boart.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Kenampakan megaskopis, endapan gambut di daerah ini berwarna cokelat tua kehitaman, dengan tingkat pembusukan sedang, H5 – H7 (hemic - safric), kandungan serat umumnya sekitar 10% sampai 15%, sedikit terdapat serat kayu dan akar, kadar kandungan air umumnya cukup tinggi. Ketebalan endapan gambut mencapai lebih dari 5 meter. Posisi dasar endapan gambut mencapai 7 meter diatas permukaan air laut, sedangkan posisi puncak kubah endapan gambut bisa mencapai 12 meter diatas muka air laut, dengan bentang alam umumnya pedataran dan di beberapa tempat bermorfologi sedikit berundulasi lemah.
2. Hasil analisis laboratorium digunakan untuk mengetahui mutu endapan gambut, yang secara tidak langsung akan berpengaruh pula dengan penentuan pemanfaatan dan penggunaan endapan gambut tersebut, yang antara lain mempunyai kadar abu rata – rata sekitar 5,35 %, total sulhpur rata – rata sekitar 0,97 % dan Calorific value rata - rata sekitar 4828 Cal/gr.
3. Sumberdaya Tereka endapan gambut yang mempunyai ketebalan lebih besar dari 1 meter di daerah penyelidikan tersebut yaitu sekitar 9.582.683 Ton gambut kering dengan Bulk Density sekitar 0,11 sampai 0,14. Luas sebaran lahan gambut yang ketebalannya lebih besar dari 1 meter yaitu sekitar 4.010 Hektar.
4. Potensi utama bahan galian yang terdapat di daerah, Kab Barito Kuala adalah endapan gambut, sebab selain ketebalan gambut hingga mencapai lebih besar dari 5 meter, yang penyebarannya menebal pada bagian tengah utara daerah penyelidikan, mempunyai bentuk geometri serta model endapan gambut yang menyerupai kubah atau dome, yang posisi umumnya terletak di atas permukaan air laut, sehingga sangat memungkinkan lahan gambut tersebut untuk dimanfaatkan / dikembangkan lebih lanjut.
Saran.
Beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu, bahwasanya eksploitasi endapan gambut disarankan hanya pada daerah-daerah lahan gambut yang ketebalannya di atas 2 meter dan yang posisinya diatas permukaan air laut, dengan mempertimbangkan ekosistem air tanah dan hidrologi yang harus tetap terjaga.
Lahan yang telah rusak karena tebal gambut yang umumnya kurang dari 1 meter habis dibakar, maka harus direvitalisasi agar dapat difungsikan kembali.
DAFTAR PUSTAKA
1. Anderson, J.A.R., 1964. The Structure And Development Of The Peat Swamps Of Serawak And Brunei. Journal of Tropical Geography. vol. 18, 1964.
2. Diemont, W.H., and Supardi, 1986: Genesis of Indonesia Lowland Peats and
Possibilities for Development. Symposium
and exhibition lowland development in
Indonesia, Jakarta. University of Illinois.
3. Euroconsult, (1984) : Preliminary Assestment of Peat Development Potential.
Final Report., Euroconsult, Ahrnem, The Netherland.
4. Geyh, H.R., Kudras Streif, H., (1974): Global changes in post Glacial Sea Level.
A Memorial Calculation Quartenary Research P.264-287.
5. James C. Cobb and C. Blaine Cecil.,
1993, Modern and Ancient Coal Forming
Environments; The Geological Society of
America, Special Paper 286.
6. Keller G.H., Richards A Drian F.,1967;
Sediments of the Malacca strait, Southeast
Asia, Department of Geology, University of
Illinois, Urbana, Illinois.
7. N. Sikumbang dan R Heryanto., (1994), Peta Geologi Lembar Amuntai Kalimantan Selatan, P3G Bandung.
8. Shell International, (1983) : Utilization of Indonesian Peat for Power Generation. Shell International Petroleum, London.
9. Truman Wijaya, (2001), Penyelidikan
Pendahuluan Endapan Gambut Daerah
Muara Pulau dan Sekitarnya, Kalimantan
Selatan, Dit Inventarisasi Sumberdaya
Mineral, Bandung.

Read more »»  

PENYELIDIKAN ENDAPAN GAMBUT DI DAERAH BARITO BELAWANG, KABUPATN BARITO KUALA PROPINSI KALIMANTAN SELATAN

Oleh

A.D. SOEBAKTY
Sub Direktorat Batubara
Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral

S A R I
Daerah Barito Belawang secara administrasi terdapat 7 kecamatan, yaitu Kecamatan Carbon, Rantau badauh, Mandastana, Anjir Muara, Anjir Pasar, Belawang dan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, Propinsi Kalimantan Selatan. Secara geografis terletak antara 3o00 - 3o15’ LS an 114o30’ – 114o45’ BT (Gambar 1).
Stratigrafi daerah penyelidikan disusun oleh satuan endapan Kuareter/aluvium, berumur Holosen (Gambar 2) yang sebagian terisi endapan gambut.
Dari hasil pengamatan secara fisik, endapan gambut di daerah ini berasal dari sisa-sisa tumbuhan rendah rawa. Seluruh endapan termasuk tipe “Topogeneus Peat” yang mempunyai ketebalan bebeapa cm hingga + 150 meter. Hampir seluruh daerah telah dibakar penduduk djadikan ladang, pesawahan dan pertanian yang dikelola pemerintah setempat.
Secara megaskpis diketahui terdapat kelas gambut, yaitu Hemic, Safric(>70%) dan Clayey Safric.
Perhitungan sementara sumberdaya gambut di atas 1 meter yaitu di Blok 4 sebesar + 54.687.500 m3 tersebar dalam luas areal + 4375 Ha. Sedangkan ratusan ribu Ha pada lok 1, 2 dan 3 hanya terdapat sisa-sisa jejak gambut dengan ketebalan maksimal + 0,3 meter.
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia termasuk negara nomor 4 di dunia yang mempunyai potensi endapan gambut setelah Kanda, Rusia dan Amerika Serikat. Endapan gambut ini tersebar di seluruh Indonesia seluas + 26 juta Ha (Anderson, 1964, Reprton Energy use of Peat, Shell Companies in Indonesia, 1981). Berkaitan dengan hal tersebut, dalam rangka merealisasikan anggaran biaya tambahan (ABT), DIK-S – BB/201,Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral melalui Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral telah melakukan penylidikan endapan gambut di daerah Barito Belawang, Kabupaten Barito Kuala, Propinsi Kalimantan Selatan.
1.2 Maksud dan Tujuan
Penyelidikan ini dilaksanakan untuk mengetahui/ menginventarisasikan sebaran, ketebalan, sumber daya, mutu, bentuk endapan dan kondisi geologi endapan gambut.
Selain hal tersebut juga dapat diketahui data umum wilayah seperti infra struktur, kondisi sosial masyarakat, iklim, curah hujan, demografi dan hal-hal lain yang erat kaitannya dengan kegiatan selanjutnya.
Seluruh data yang didapat diharapkan merupakan data inventaris yang akan menunjang dalam menentukan prospek pemanfaatan dan pengembangan penggunaannya dikemudian hari.
1.3 Letak, Kesampaian dan Sarana Perhubungan
Daerah penyelidikan secara administrasi terdapat dalam 7 kecamaatan, yaitu Kecamatan Carbon, Rantau Badauh, Mandastana, Anjir Muara, Anjir pasar, Belawang dan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, Propinsi Kalimantan Selatan.
Secara geografi terletak diantara 3o00’ – 3o15’ LS dan 114o30’ – 14o45’ BT (Gambar 1). Daerah utama terletak + … km sebelah Utara Banjarmasin, dapat dicapai dengan kendaraan roda empat, kemudian dilanjutkan dengan perahu motor dan sampan.
1.4 Demografi, Iklim dan Tata Guna Lahan
Penduduk di daerah penyelidikan dan sekitarnya menurut sensus registrasi akhir tahun 1999) tercatat 93.841 jiwa dalam 7 kecamatan, dengan rata-rata pertumbuhan per tahun 3,18%.
Keadaan iklim di daerah penyelidikan seperti umumnya daerah tropis yang mempunyai kelembaban dan curah hujan tinggi yang dipengaruhi oleh tiga karakteristik utama, yaitu curah hujan, angin dan temperatur
Data curah hujan dan curah hujan yang diketahui dari Dinas Pertanian Kabupaten Barito Kuala tercatat rata-rata per tahun 2.074 mm, har hujan 123.
Tata guna lahan, hampir seluruh daerah penyelidikan tidak mempunyai tata guna lahan yang jelas, kecuali di dekat kota kabupaten dan lokasi-lokasi transmigrasi. Dari + 502.183 Ha tanah, tercatat hanya 43,668 Ha berupa prkebunan rakyat dan hutan negara (+ 11%), sisanya beberapa peladangan, sawah tadah hujan, pasang surut dan lain-lain.
2. GEOLOGI UMUM
2.1 Geologi Regional
Daerah penyelidikan berupa dataran bergelombang rendah yang disusun oleh satuan endapan aluvium yang terbentuk kala Holosen dan dipisahkan oleh sungai-sungai berbentuk meander dan terjadi rawa-rawa yang sangat luas. Sungai utama S. Barito, Sungai Alalak dan S. Martapura
2.2 Stratigrafi
Satuan endapan aluvium yang terddapat di daerah penyelidikan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
a.Satuan aluvium tua (Qal), terdiri dari kerikil, pasir, lanau dan lempung.
b.Satuan aluvium muda (Qa), terdir dari pasir halus lanauan, lanau lempungan, lempung, lumpur dan gambut.
3. HASIL PENYELIDIKAN
3.1 Morfologi
Secara keseluruhan daerah penyelidikan memperlihatkan bentuk morfologi berelief rendah dengan ketinggian berkisar antara 3 sampai 13 meter di atas permukaan laut.
Dataran tertinggi berupa undak bukit dan undak Sungai Barito di sekitar Baratlaut daerah penyelidikan dan sekitar S. Barito dengan ketinggian berkisar antara 10 hingga 13 meter. Batuan penyusun berupa satuan aluvium tua. Relief terendah berupa rawa-rawa dengan ketinggian 1-4 meter, disusun oleh endapan aluvium muda (Gambar 2).
Pengukuran lintasan topografi, karena tidak mempunyai titik ikat utama (Triangulasi), patok pertama diambil dari pinggir sungai yang terletak di sekitar ketingian daerah sekitarnya dengan ketinggian permukaan endapan gambut, sehinga bilamana pemanfaatan gambut atau tanah akan dilaksanakan dapat dipertimbangkan seberapa dalam (tebal) gambut yang akan diproduksi. Dari hasil pengukuran tersebut diketahui perbedaan ketinggian yang bergambut utuh antara cm sampai + 2 meter, sedangkan pada daerah yang gambutnya sudah dibakar ketinggian permukaan tanah lebih rendah sehingga terbentuk rawa-rawa yang luas terendam air.
3.2 Stratigrafi dan Lingkungan Pengendapan
Satuan batuan yang ditemukan di daerah penyelidikan secara garis besar sudah dijelaskan pada sub bab stratigrafi. Dari hasil pemetaan geologi permukaan dan didukung pengukuran lintasan jalur bor, batas litologi terutama antara endapan gambut dan litologi sekitarnya dapat diketahui lebih jelas, satuan batuan yang terdapat di daerah penyelidikan terdiri dari :
a. Satuan aluvium tua (Qal), kerikil kelabu-kekuningan kotor, pasir kelabu terang-kekuningan, lanau kecoklatan-kekuningan, lempung, abu-abu keputihan, padat-lunak.
b. Satuan aluvium muda (Qa), lanau kecoklatan-kekuningan kotor, lanau lempungan, pasir halus putih kekuningan, lempung abu-abu muda-keputihan kotor, lunak, lumpur organik kotor-kehitaman dan gambut coklat tua-coklat kehitaman.
Pendekatan yang dipakai dalam analisis lingkungan pengedapan gambut adalah atas dasar sifat-sifat litologi dan struktur sedimen yang berkembang di sekitar daerah pengendapan gambut. Pada umumnya endapan gambut didaerah ini terdapat berasosiasi dengan lempung karbonan atau lempung organik dimana terlihat jelas jejak tempat hidup tumbuhan pembentuk gambut dan endapannya bersifat “Autochtonous”/insitu. Selain itu endapan gambut terbentuk diantara tanggul-tanggul alam atau levee, membentuk rawa-rawa terisi gambut.
Dari hasil analisa conto gambut “Clay sapric” atau gambut lempungan terlihat persentase minimal besi sulfida tinggi. Berdasarkan data tersebut, maka pengendapan gambut di daerah ini adalah lingkungan rawa.
3.3 ENDAPAN GAMBUT
3.3.1 Klasifkasi
Dari hasil pengamatan penampang bor, pembentukan gambut (genesa) diperkirakan dimulai dari penimbunan sisa-sisa tumbuhan jenis tumbuhan rendah dan belukar pada lensa-lensa dataran bergelombang. Dalam pembentukan awal pengaruh air sungai masih dominan sehingga terbentuk endapan gambut “Togeneous Peat” yang umumnya bercampur lempung dengan ketebalan relatif tipis.
Hasil pengamatan secara megaskopis dari pemboran maupun singkapan yang ada, endapan gambut diketahui terdiri dari 3 kelas yaitu; Hemic, safric dan clayey safric.
Hemic berwarna coklat tua teriri dari komponen serat-serat sisa kayu, batang, akar-akaran dan kulit berukuran dominan beberapa mm hingga 5 cm (H6-H7).
Safric berwarna coklat tua kehitaman terdiri dari sisa-sisa tumbuhan hampir semuanya halus berupa pasta, fragmen-fagmen tumbuhan masih terlihat ada (H7-H8).
Clayey safric berwarna kehitaman, terdiri dari sisa-sisa tumbuhan sama seperti safric, tetapi telah banyak bercampur lumpur lempungan (H8).
Dari pengamatan megaskopis di lapangan lebih dari 70% endapan gambut di daerah ini termasuk kelas safric.
3.3.2 Sumberdaya gambut
ratusan ribu hektar daerah yang diselidiki, yang mempunyai ketebalan gambut lebih dari 1 meter adalah+ 4375 Ha, sedangkan sisanya berupa jejak-jejak gambut tebakar hanya mempunyai ketebalan beberapa cm sampai 0,30 meter (Gambar 2). Sumberdaya gambut dihitung dari perkalian antara luas sebelum dengan ketebalan anatara rata-rata dua isopach adalah + 54.687.50 m3 (Bok 4). Sedangkan sumberdaya pada Blok 1,2 dan 3yang mempunyai sisa ketebalan maksimal 0,30m adalah + 1.006.500 m3.
3.3.3 Kualitas
Pembahasan kualitas gambut dilakukan secara analisa kimia. Untuk mengetahui kualitas tersebut telah dianalisa 14 conto yang dianggap mewakili sebagian daerah penyelidikan. Conto-conto ini diambil dari endapan gambut paling bawah secara “play sample” dari “Hemic sampai Clayeys afric”.
Dari 14 conto yang dianalisa diketau raa-ratakandungan LN %, LJ%,M%VM5 FC %,St %, BD %CV KAL/GR,Ab % dan pHÂ…
3.3.4 Prospek Pemanfaatan Endapan Gambut
umumnya berdasarkan pengalaman selain sebagai bahan energi altenatif gambut dapat dmanfaatkan antara lain untuk industri dan lahan pertanian. Endapan gambut basa dikelompok sebagai berikut :
Daerah bergambut dengan ketebalan 0-atau kurang dari 1 meter umumnya dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian bahan makanan,palawija dan hortikultura
Lahan gambut dengan ketebalan kurang dari 2 meter biasanya masih dapat digunakan sebagai lahan pertanian produksi perkebunan rakyat ataupun perkebunan besar seperti karet, sagu dan sagu dengan irigasi yang teratur
Lahan gambut dengan ketebalan lebih dari 2 meter diharapkan dapat dipergunakan untuk energi alternatif dan industri.
Proses pemanfaatan dan pengembangan lahan gambut, karena ketebalan kurang dari 2 meter dan yang paling luas kurang dari 1 meter pada saat ini telah dimanfaatkan sebagai lahan transmigrasi di blok 1, pertanian, sawah, sawah tadah hujan, ladang hampir di seluruh daerah penyelidikan, sedangkan di blok 4 masih belum dimanfaakan berupa rawa-rawa.
4. KESIMPULAN DAN SARAN
Dari uraian-uraian yang telah dikembangkan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan, bahwa :
Secara stratigrafi, daerah penyelidikan hanya disusun oleh satuan batuan aluvium tua (Qal) dan muda (Qa).
Endapan gambut yang dijumpai di daerah ini terjadi di lngkungan rawa, temasuk jenis endapan “Topogeneos Peat” dan terdiri dari 3 kelas yaitu Hemic, safric (>70%) dan Clayey safri.
Dari hasil pengukuran lintasan topografi pada jalur-jalur pemboran diketahui permukaan endapan gambut dan titik lokal berkisar hanya beberapa cm 2 meter, ketebalan gambut maksimal 1,56 meter.
Endapan gambut di daerah ini tidak berkembang baik, disebabkan karena genesa pembentukannya pada lensa-lensa tipis dan bergelombang dan pengaruh anak-anak sungai yang banyak mengalir di daerah ini dan lebih dari 60% telah dibakar dijadikan lahan pertanian dan pesawahan. Sumberdaya gambut yang dihitung dari ketebalan 1 meter adalah + 54.687.500 m3 dalam luas areal 4375 Ha. Dari hasil analisa diketahui nilai rata-rata kalori Â… kal/gr, kadar sulfur % dan kadar abu %.
Pemanfaatan tanah dan lahan gambut disarankan cukup baik sebagai lahan pertanian, perkebunan dan lahan transmigrasi, dimana endapan gambut yang relatif tipis merupakan bahan pengikat pupuk bila diolah dengan baik, sedangkan untuk energi alternatif tidak cukup prospek, untuk industri sebagai pencampur bahan kertas di blok 4 bisa dipertimbangkan.
DAFTAR PUSTAKA
Bemmelen R.W.Van, 1949; The Geology of Indonesia, Martinus Nijhoff, The Haque.
Report on EnergyUse of Peat, United nations conference on New and Renewable Source of Energy, 1981.
Supardi, 1983; Kegunaan Gambut dan Perkembangannya di Indonesia, Direktorat sumberdaya Mineal, Bandung.
Supardi, dkk., 1990; Laporan Penyelidikan Endapan Gambut Daerah Muarakaman
N. Sikumbang dan R. Heryanto,1994; Peta Geologi Lembar Banjarmasin, Kalimantan
Timor, Jarsen, 1985; Energy Project Based on Peat and Bimass Indonesia. Technical Research Centre of Findland.

Read more »»  

Rabu, April 04, 2012

Jenis pengamatan tanah dalam Survey Tanah

Pengamatan tanah di lapangan bertujuan untuk memperoleh data sifat-sifat morfologi tanah dan penyebarannya. Berdasarkan jenis data sifat-sifat morfologi yang ingin diketahui, pengamatan tanah dapat dilakukan melalui: (a) pemboran, (b) minipit, dan (c) penampang (profil) tanah.
(a). Pemboran
Pengamatan melalui pemboran diperlukan apabila ingin memperoleh data sifat-sifat morfologi tanah secara terbatas, pengecekan batas satuan peta, dan penyebaran tanahnya. Dalam pengamatan pemboran terdapat sifat-sifat morfologi yang tidak dapat dideskripsi, misalnya struktur tanah, pori-pori, dan batas Horizon, sebab tanah yang terambil oleh bor kondisinya sudah terganggu/tertekan (bukan merupakan penampang utuh). Sifat tanah yang dapat diamati:
tekstur, warna, konsistensi, adanya konkresi, kerikil, dan karatan.
Oleh karena itu pengamatan tanah dengan pemboran biasanya bertujuan untuk pengecekan
kondisi tanah dalam rangka penentuan lokasi profil yang akan dibuat, pengamatan pada tanah yang tidak memungkinkan dilakukan pada profil, misalnya pada tanah rawa tergenang, tanah dengan muka air tanah dangkal, tanah bertekstur pasir lepas, tanah gambut dalam kondisi tergenang dan banyak berserat (fibrik), atau untuk menetapkan selang sifat tanah tertentu. Pemboran dilakukan juga pada penampang minipit untuk mengetahui lapisan-lapisan tanah di bawahnya (>1,25 m).
Bor untuk tanah mineral yang lazim digunakan adalah tipe Belgia dengan panjang 1,25 m. Mata bor dapat mengambil contoh tanah setebal 10-20 cm, tergantung kekerasan tanahnya. Oleh sebab itu, interval kedalaman tanah untuk deskripsi sifat-sifat morfologi dengan pemboran dilakukan setiap 10 sampai 20 cm, misalnya 0-10, 10-20, 20-30, 30-50, 50-70 cm dan seterusnya, tergantung dari variasi perubahan sifat-sifat tanahnya. Hal ini dilakukan karena sulit memperoleh ketepatan batas yang akurat dalam pengamatan pemboran. Apabila dikehendaki kedalaman >1,25 m sesuai dengan control section yang disyaratkan, maka pada permukaan tanah dapat digali dulu minipit, dan selanjutnya pemboran dapat dilakukan lebih dalam lagi.
(b) Minipit
Minipit dibuat seperti penampang tanah (profil), namun ukurannya lebih kecil dan lebih dangkal. Tujuannya untuk mendapatkan data sifat-sifat morfologi Horizon penciri (lapisan bawah) dan untuk mengetahui penyebaran variasi sifat-sifat tanah pada suatu daerah yang dipetakan. Tidak ada ketentuan yang pasti, tetapi biasanya berukuran 0,5 x 0,5 x 0,5 m yang memungkinkan pengamatan tanah dapat dilakukan dengan baik. Untuk melengkapi deskripsi lapisan yang lebih dalam (>0,5 m), maka dapat dilanjutkan dengan pemboran sampai kedalaman yang diinginkan.
Pada pengamatan minipit, akan diperoleh data sifat-sifat morfologi tanah bagian atas namun kurang lengkap bila dibandingkan dengan data dari penampang/profil, karena lapisan bawah tidak bisa diamati. Pengamatan minipit diperlukan apabila dalam kondisi tertentu tidak memungkinkan dibuat profil tanah, misalnya tanah basah atau pasir yang tidak memungkinkan untuk digali lebih dalam.
Untuk mengamati lapisan yang lebih dalam, dilakukan pemboran terutama untuk mencapai kedalaman control section yang disyaratkan dalam penetapan klasifikasi tanah-tanah tertentu.
(c) Penampang tanah (profil)
Pengamatan melalui profil tanah diperlukan untuk mendapatkan data sifat-sifat morfologi tanah secara lengkap, karena sisi penampang dapat terlihat dengan jelas. Pada kondisi tertentu, pembuatan profil tidak bisa dilakukan, misalnya tanah tergenang air atau muka air tanah dangkal, tekstur tanah terlalu kasar (pasir), gambut dalam kondisi bukan gambut matang. Dalam kondisi demikian pengamatan tanah dapat dilakukan melalui pemboran, atau minipit pada bagian atas, yang kemudian dilanjutkan dengan pemboran.
Cara pembuatan profil tanah
- Lubang penampang umumnya harus cukup besar, supaya orang dapat dengan mudah duduk/berdiri di dalamnya dan pemeriksaan dapat dilakukan dengan sempurna. Penampang berukuran panjang 2 m, lebar 1 m, dalam 1,5 m atau sesuai dengan penampang kontrol (control section) dari ordo tanah.
- Bagian sisi penampang yang diamati adalah sisi yang terkena sinar matahari agar tampak terang. Apabila profil terdapat pada lahan yang berlereng/miring, maka sisi penampang yang diamati adalah sisi dinding di bagian lereng atas.
- Tanah bekas galian profil tidak boleh ditimbun di atas sisi penampang yang akan diamati, karena akan mengganggu pengamatan/pemeriksaan dan pengambilan contoh tanah.
Read more »»  

Peralatan dan Bahan dalam Pembuatan Penampang Tanah untuk Survey Tanah

Dalam kegiatan survei dan pemetaan tanah di lapangan, diperlukan beberapa peralatan dan bahan yang harus dipenuhi guna kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan kegiatan. Peralatan dan bahan tersebut adalah sebagai berikut:
Peralatan
-Bor tanah (auger/core) terdiri atas: (1) bor tipe Belgi dengan ukuran panjang 1,25 m, digunakan untuk mengebor tanah untuk mengetahui sifat dan penyebaran tanah di lapangan; (2) bor gambut dengan panjang 2-5 m (dapat disambung-sambung) digunakan pada tanah-tanah gambut; (3) bor tabung pengeruk (posthole atau bucket auger) untuk penggunaan umum; (4) bor skrup (screw auger) digunakan pada tanah yang sangat keras atau liat berat; dan (5) bor tusuk (soil probe) digunakan untuk pemeriksaan cepat pada tanah lunak atau gembur.
-Cangkul,garpu tanah,linggis, dan sekop untuk menggali lubang penampang/profil tanah dengan membuat sisi penampang tegak lurus ke bawah berukuran panjang X lebar = 1,0 X 2,0 m dan kedalaman 1,5-2,0 m atau tergantung dari penampang kontrol kedalaman dari masing-masing ordo tanah.
- Meteran rol baja, aluminium, atau pita/ban untuk mengukur kedalaman penampang, ketebalan dan batas lapisan (Horizon), ukuran bahan kasar (kerikil, batu), struktur, karatan, dan perakaran. Meteran ban bentuknya agak lebar dan besar, digunakan selain untuk mengukur ketebalan Horizon, juga untuk pengambilan dokumentasi (foto penampang) agar angka-angka kedalamannya terlihat jelas.
- Pisau belati untuk menarik garis atau menandai batas lapisan, perbedaan warna, mengambil gumpalan tanah untuk melihat struktur, tekstur; gumpalan bahan kasar (konkresi), selaput liat; mengiris perakaran, dan mengambil contoh tanah.
- Penusuk (pin) berupa paku besar atau kayu untuk menahan pita meteran.
- Buku Munsell Soil Color Chart sebagai pedoman untuk menetapkan warna tanah dan semua gejala karatan yang terdapat di dalam penampang.
- Pengukur pH tanah di lapangan, dapat berupa Ph Truog, pH elektrode, pH stick (Merck) atau lakmus. Kisaran (range) ketelitian alat pengukuran tingkat kemasaman (pH 0-14) bervariasi antara 0,5-1,0. Cara kerja masing-masing alat pengukur pH tersebut diuraikan dalam bab selanjutnya.
- Penetrometer yaitu alat yang digunakan untuk mengukur kekerasan tanah.
- Loupe (perbesaran 10 atau 20 kali) digunakan untuk melihat secara mikroskopis jenis-jenis mineral dalam batuan, mengamati gejala selaput liat, ukuran dan jumlah pori tanah, dan bentukan khusus lainnya pada permukaan struktur tanah.
- Palu geologi digunakan untuk memecah batuan induk yang akan diamati jenis mineral penyusunnya, mengambil contoh batuan, serta mengukur kekerasan padas atau konkresi.
- Botol semprot berisi air, untuk membasahi tanah yang akan ditentukan kelas tekstur dan konsistensi tanahnya secara manual di lapangan serta warna tanah.
- Handboard , berupa papan alas untuk pencatatan pada formulir isian di lapangan.
- Sendok tanah untuk mengambil contoh tanah.
- Abney level atau Clinometer untuk mengukur kemiringan lereng (dalam persen atau derajat).
- Teropong untuk orientasi wilayah.
- Kompas untuk menentukan arah penampang terhadap lereng atau letak penampang terhadap sesuatu tanda tetap di lapangan, juga untuk menentukan posisi dan arah di lapangan.
- Altimeter untuk mengukur ketinggian tempat (elevasi) di atas permukaan laut.
- GPS (Global Positioning System) digunakan untuk mengetahui posisi koordinat geografik (lintang-bujur) titik pengamatan.
- Peta rupabumi, topografi atau potret udara untuk mengetahui posisi pengamatan di lapangan, jaringan jalan, sungai, kampung, dan situasi wilayah lainnya.
- Peta lapangan berupa peta hasil interpretasi landform/satuan lahan atau peta analisis digunakan untuk memplot lokasi pengamatan tanah, baik lokasi pemboran, minipit, maupun profil.

Bahan
- Air bersih (dalam botol plastik) untuk membasahi massa tanah guna penetapan tekstur dan konsistensi dalam keadaan lembap dan basah, dan untuk melembapkan penampang tanah jika terlalu kering.
- Asam chlorida (HCl) untuk mentest adanya bahan kapur, dan menduga kadar relatifnya dari intensitas buihnya dengan cara meneteskan beberapa tetes.
- Hydrogen peroksida (H O ) untuk menduga adanya pirit atau bahan sulfidik dari tanah-tanah di daerah pantai, atau bahan organik, dari intensitas buihnya.
- Cairan alpha-alpha dypiridyl untuk menduga adanya sifat ‘aquic ’ atau ‘redox’.
- Natrium fluorida (NaF) untuk mengetahui adanya mineral alofan dalam penyidikan sifat andic .
- Kantong plastik untuk tempat contoh tanah.
- Kertas label untuk memberi tanda/kode pada contoh tanah yang ditempatkan di dalam dan luar kantong plastik.
- Formulir isian penampang tanah dalam format basisdata untuk mencatat semua gejala dan ciri morfologi tanah secara sistematis dari penampang tanah dan lingkungan sekitarnya.
- Buku petunjuk pengisian formulir isian basisdata berupa kode dan keterangannya.
- Buku Kunci Taksonomi Tanah sebagai pedoman untuk mengklasifikasikan tanah di lapangan.
Read more »»  

Halaman